Rabu, 18 Februari 2009

Penyebab Hedonisme


Penyebab Hedonisme

Lalu lintas komunikasi sosial dalam masyarakat bertujuan menghubungkan pikiran manusia yang satu dengan yang lain untuk menemukan pola-pola bertindak. Ada dua faktor penyebab hedonisme, yaitu faktor ekstern dan faktor intern.

Faktor Ekstern

Derasnya arus industrialisasi dan globalisasi yang menyerang masyarakat merupakan faktor yang tak dapat dielakkan. Nilai-nilai yang dulu dianggap tabu, kini dianggap biasa. Media komunikasi, khususnya media iklan memang sangat bersinggungan dengan masalah etika dan moral. Melalui simbol-simbol imajinatif media komunikasi massa jelas sangat memperhitungkan dan memanfaatkan nafsu, perasaan, dan keinginan. Dr. Budi Susanto. Sj mengatakan bahwa, pada saat ini para hedonis mempromosikan berbagai macam tawaran kebutuhan manusia sampai kehidupan dunia gemerlapan malam yang berbau pornoaksi lewat media televisi, iklan dan media cetak lainnya.

Begitu juga Abu Al Ghifari mengatakan bahwa,

“Dari semua tawaran pada media-media ini, tak jarang menjadikan seks sebagai saran hiburan. Aurat untuk menarik massa yang tak layak disembunyikan lagi. Kini daerah-daerah aman wanita sudah tak ada lagi dari bidikan kamera film-film yang mempertontonkan bagian-bagian yang vital, sehingga televisi tak lebih dari hedonisme media masa kini.”

Dalam hal ini seluruh media informasi yang ada turut serta ambil bagian dalam menentukan paham hedonisme terjerat pada seseorang.

Perilaku Hedonis tidak terlepas daripada pergaulan sesama dalam kota-kota besar yang lebih menyukai kesenangan dan kenikmatan. Pendapat di atas itu dibenarkan oleh dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, Inna Mutmainah. Dijelaskan oleh Inna, “Anak muda memang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan berkomunitas. Mereka paling senang nongkrong bersama kelompok dan teman-teman sebayanya.” Dalam bergaul ini, selalu ada tekanan dari dalam diri si anak untuk melakukan hal yang sama dengan teman satu kelompok. Nah, tekanan itu akan membuat dia mempertanyakan kembali nilai yang selama ini telah tertanam dalam dirinya. Jika seseorang tinggal dalam lingkungan yang hidupnya suka berfoya-foya, mengejar kenikmatan, maka dengan sendirinya orang tersebut akan mengikuti gaya hidup yang telah ditanamkan dalam lingkungan pergaulan tersebut.

Theo Huijbers mengatakan dalam bukunya, kadang karena terdesak masalah kebutuhan ekonomi yang menuntutnya, maka masyarakat metropolitan dapat terbawa arus hedonisme yang semakin konsumeristik.

Faktor Intern

Sementara itu dilihat dari sisi intern, lemahnya keyakinan agama seseorang juga berpengaruh terhadap perilaku sebagian masyarakat yang mengagungkan kesenangan dan hura-hura semata. Binzar Situmorang menyatakan bahwa, “Kerohanian seseorang menjadi tolak ukur dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi mereka yang suka mengejar kesenangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar