Minggu, 15 Februari 2009

Dirancang Untuk menjadi kesukaan Allah


Dirancang Untuk menjadi kesukaan Allah (Wah 4:11, Maz 149:4a)

Kita dirancang bagi kesenangan Allah. Pada saat qta dilahirkan Dia hadir sbagai saksi tak kelihatan yang sedang tersenyum atas kelahiran qta. Kita ada untuk kepentinganNya, kemuliaanNya, kesenagnaNya. Dan mendatangkan kesukaan bagi Allah adalah TUJUAN hidup kita. Jika kita tahu kebenaran ini maka tidak perlu kita ragu akan hidup ini dan perasaan2 yang tidak berarti. Kebenaran ini membuktikan bahwa kita sangat berharga di mata Tuhan, kita terlau penting, obyek perhatian Tuhan dan pantas bersama denganNya dalam Kekekalan (Ef 1:5). Alas an mengapa sampai kita bisa menikmati kesenangan karena Allah menjadikan kita menurut gambarNya. Kadang kita lupa bahwa Allah memiliki emosi, dan alkitab mencatat itu.

Mendatangkan kesenangan bagi Allah disebut penyembahan (Maz 147:11).

Seperti berlian, penyembahan memiliki banyak segi, akan diperlukan banyak buku untuk menuliskan semua aspek yang ada untuk menuliskan penyembanhan. Tergantung latar belakang kita dalam mendefenisikan penyembahan. Mungkin ada yang bilang: contoh kegiatan2 rohani...... tetapi penyembahan jauh lebih dari ekspresi2 ini. Penyembahan adalah gaya hidup.

1. Penyembahan jauh lebih dari sekedar music

Bagi banyak orang penyembahan sam dengan music. Mereka berkata awalx penyembahan dan pengajaran... ini salah besar. Setiap dari ibdah greja adalah tindakan penyembahan. Sebenarnya penyembahan ada lebih dahulu dari music. Adam menyembah di taman Eden, tetapi music baru disebutkan di Kej 4:21. Jika penyembahan hnaya music maka semua orang yang tidak ada bakat music tidak pernah menyembah Tuhan. Penyembhan jauh lebih dari music.

Lebih buruk lagi penyembhanan sering kali secara salah digunakan untuk menunjuk pada gaya music tertentu, awalx pujian, penyembahan, atau lagu lambat, cepat... Penyembahan tidak ada hubungan dengan gaya music. Mungkin kita tidak suka dengan beberapa gaya music tapi Allah suka semuax. Kadang kita suka mengkritik tentang music pada gereja lain, kalau mau jujur sekarangpun kita tida memakai alat music dalam zaman alkitab. Sebenarnya gaya music lebih berebicara pada kepribadian dan

latar belakang kita. Tidak ada music Kristen, yang ada hanya lirik Kristen (Rick Warren).

2. Penyembahan bukanlah unutk kepentingan anda

Kadang kita sering dengar “saya suka penyembahan hari ini,” ini salah. Penyembhanan bukanlah kepentingan kita. Tetapi untuk kepentingan Allah. Ketika kita menyembah tujuan kita adalah untuk mendatangkan kesenangan bagi Allah. Jika kita berkata saya tidak mendapatkan apa2 dalam penyembhana hari ini, maka kita keliru dalam penyembhanan. Dalam Yesaya 29:13 Allah mengeluh tentang penyembahan yang setengan hati dan munafik. Ingat hati Allah tidak tersentuh dengan tradisi dalam penyembhaan tetapi kasih dan komitmen.

3. Penyembahan bukan lah bagian dari kehidupan anda tetapi kehidupan anda

Penyembhan bukan hanya untuk kebaktian gereja. Kita disuruh untuk senantiasa menyembah (Maz 105:4, Maz113:3). Dalam alkitab orang menyembah Tuhan di berbagai situasi dan tempat. Setiap aktivitas dapat kita ubah menjadi tindakan penyembhanan, bila kita lakukan dengan demi kesenangan Allah maka alkitab katakan I Kor 10:31..... Marthin Luther, ”seorang pemerah sapi bisa memerah sapi bagi kemuliaan Allah.

Ini rahasianya..

From "Purpose Driven Life" Rick Warren

Sabtu, 14 Februari 2009

Kunci Sukses - Yahudi


Kunci Sukses “Kejayaan” Kaum Yahudi

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kaum Yahudi kini telah menguasai berbagai lini dalam segala sektor terpenting di dunia. Apalagi kebijakan-kebijakan strategis negara adikuasa (AS) tidak lepas dari lobi-lobi Yahudi. Serasa sebuah kelompok yang amat kecil ini telah berhasil dalam menguasai dunia. Tidaklah berlebihan kemudian ketika ada ungkapan bahwa Yahudi saat ini telah memiliki negara baru yakni “negara dunia”.

Padahal di seluruh dunia jumlah Yahudi tidak lebih dari 15 juta-an orang saja. Tersebar sekitar 7 juta-an di Amerika, 5 juta di Asia, 2 juta di Eropa dan 100.000 di Afrika. Namun dalam prestasi dunia semisal hadiah nobel dalam bidang fisika, kimia dan kedokteran saja tercatat 12 persen jatuh ke tangan Yahudi. Tidak sekedar itu saja, konsep bank sentral, uang kertas, kapitalisme, komunisme dan memperdangangkan kembali barang-barang bekas adalah ide Yahudi untuk menciptakan kekuatan ekonomi yang menggurita.

Jika melihat asal-usul Yahudi maka tidak terlepaskan dari seorang yang bernama Ibrahim. Sosok yang dipandang sebagai nenek moyang tiga agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam). Nabi yang tampil dalam pertas sejarah sekitar 3.700 tahun yang lalu. Konon, Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Bangsa yang –mereka anggap– tidak lagi terikat oleh undang-undang bangsa lain. Dengan kecenderungan mengambil ayat-ayat kitab suci yang agresif, bangsa Yahudi membenarkan tindakannya untuk memusnahkan bangsa lain di dunia ini.

Kemudian muncullah apa yang disebut sebagai fenomena “ras super” dalam sejarah umat manusia. Salah satunya ialah ras kaum Yahudi. Alkitab juga menyebutkan bahwa bangsa Israel dalam sejarahnya merasa menjadi ras pilihan tuhan. Hal ini sebenarnya adalah wujud rendah diri mereka karena pernah menjadi budak bangsa Mesir selama bertahun-tahun. Sebagai wujud kompensasinya, nabi Musa mengangkat harga diri bangsa Israel dengan mengatakan bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan.

Sepanjang sejarahnya, Yahudi adalah kaum yang memang lekat dengan berbagai sifat buruk kemanusiaannya. Mereka tamak, sombong, dengki, dendam, pengecut, bengis dan licik. Dalam setiap zama mereka selalu menjadi benalu dalam peradaban karena sikap licik ketika lemah dan kejam saat berkuasa. Mereka selalu bermimpi untuk menjadi pengendali tunggul peradaban dan berbagai kepentingan duniawi. Hanya boleh ada satu dominasi yakni kepentingan Yahudi (E Pluralis Unum).

Yahudi selalu menindas yang lemah dan memperalat yang kuat. Sebelum AS berjaya, Yahudi terlebih dahulu telah berhasil memanfaatkan Inggris dan Prancis demi meraih cita-citanya. Meski untuk itu Yahudi mengawali dengan rencana yang tak murah dan pasti selalu menuntut tumbang ribuan atau bahkan jutaan nyawa, menyeret Inggris dalam perang saudara, serta memicu meletusnya Revolusi Prancis.

Selain di AS yang telah menjadi korbannya, kini kaum Yahudi telah memiliki rumah sendiri dengan mengusir kaum Muslim yang telah menetap di Palestina sejak waktu yang lama. Ratusan ribu Muslim Arab pun kemudian hidup di bawah kelayakan hidup manusia dalam tenda-tenda pengungsian di negara-negara Arab tetangganya, yaitu Yordania, Syiria, Libanon dan Irak. Kaum Yahudi tidak cukup puas dengan kesewenang-wenangannya dan tidak merahasiakan lagi rencana-rencana perluasan negaranya. Dengan mencoba mencaplok wilayah negara-negara tetangga.

Buku dengan judul “Rahasia Kecerdasan Yahudi” ini sungguh luar biasa. Perkembangan Yahudi dipotret oleh penulisnya dengan mencoba diteropong dari sisi-sisi yang lain. Sisi dimana bangsa Yahudi telah menjadi penguasa raksasa di dunia. Terlepas mereka meraihnya dengan licik, picik atau apapun alasannya yang jelas seluruh penduduk di muka bumi yang berjumlah sekitar tujuh milyar berlekuk lutut di kaki kaum Yahudi yang jumlahnya amat kecil. Setidaknya, dalam buku ini sedikit terbongkar jejak-jejak “kecerdasan” Yahudi.

Dalam balutan uraian sejarah yang cukup dramatis inilah, penulis dengan bahasa yang ringan dan singkat namun cukup padat telah membuka lebar pengamatan akan kaum Yahudi. Buku yang seharusnya mendapat apresiatif lebih. Bukan untuk menuduh yang tidak-tidak terhadap ras yang ada tapi tersirat penulis mengajak pembaca untuk tetap optimis. Dengan mengaca pada kunci kesuksesan akan “kejayaan” kaum Yahudi saat ini, pembaca diajak untuk melihat jauh ke depan keberlanjutan tantangan dalam tatanan masyarakat dunia esok.

KARAKTER ILAHI


KARAKTER ILAHI

Tahukah anda bahwa kita mempunyai tiga sekawan yang namanya Tempramen, Karakter dan Kepribadian.

  1. tempramen adalah kombinasi dari sifat-sifat yang kita bawa sejak lahir. Dibagi jadi empat macam: sanguine, kolerik, melankolis, plegmatik. Tidak ada tempramen yang lebih baik dari yang lain, semua ada kelemahan dan kekurangannya . Kita harus pintar-pintar mengendalikannya. Tempramen yang baik adalah tempramen yang sudah dikendalikan oleh Roh Kudus (Tim LaHaye “Tempramen yang diubahkan”)
  2. karakter adalah kombinasi dari tempramen dan kebiasaan yang kita lakukan. Karakter adalah diri kita sebenarnya. Karakter yang baik adalah gabungan dari tempramen yang sudah dikendalikan oleh Roh dengan kebiasaan baik yang kita punya serta latihan-latihan yang kita lakukan. Jadi, membentuk karekter itu sangat penting
  3. kepribadian adalah ekspresi yang keluar dari kita alias wajah kita. Kapribadian memang kadang keluar sebagai manifestasi karakter kita yang sebenarnya, tapi kadang juga hanya topeng alias boongan. Diri kita sebenarnya adalah karakter yang kita punya.

Kebiasaan

Pernahkah anda melihat teman, saudara, guru atau yang yang lainnya bisa negelakuin sesuatu yang begitu amazing atau luar biasa banget? Ada satu fakta yang mengatakan bahwa kalo orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang membangun suatu rangkain kebiasaan. Untuk membentuk karakter yang baik, sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang kita punya atau yang akan kita kembangkan. Kebiasaan adalah satu pola tingkah laku yang dilakukan secara otomatis, berulang dan seringkali tidak disadari. Itu dilakukan berdasarkan pengalaman atau latihan sebelumnya. Biasanya, pemberian atau upah akan membentuk kebiasaan, setelah kebiasaan terbentuk, maka tidak perlu lagi upah. Kebiasaan tidak timbul sejak kita lahir tapi karena dilatih. Dan kebiasaan baik bukanlah sebuah ketrampilan yang bisa kita bentuk seenaknya tapi suatu pola yang harus kita kerjakan melalui latihan berulang-ulang sampai menjadi tindakan yang alami.

Tips melatih kebiasan baik

  1. tentukan rutinitas yang akan kita ubah. Misalnya olahraga, makan sayur, nonton TV, membaca, dll.
  2. siapkan waktu yan cukup untuk melalukannya. Menurut Dr. Maxwell Maltz butuh waktu rat-rata 3 minggu melakukan sesuatu setiap hari utnuk membentuk sebuah kebiasaan

Tips membuang kebiasaan buruk

  1. buatlah keputusan untuk berhenti dari kebiasaan buruk. Misalnya ngerokok, maki, tidur malam.
  2. tegaskan, bahwa kamu biasa membuat keputusan-keputusan itu.
  3. bicara pada diri sendiri. Ucapkan komitmen penegasan apa yang sudah kamu buat. Misalnya aku akan berhenti merokok, dll....

Kalau kita mempunyai kebiasaan buruk maka akan sulit untuk mengusirnya. Jauh lebih mudah jika hal itu belum menjadi kebiasaan. Kalau kebiasaan buruk itu sudah tinggal dalam kita maka itu akan menjadi bagian hidup kita. Semakin mencoba melepaskannya bisanya kebiasaan itu semakin mencengkram kita. Satu-satunya cara yang tepat minta Roh Kudus membimbing hidup kita dengan cara menggantika kebiasaan buruk dengan hal-hal yang baik atau bernilai.

KARAKTER

Istilah karakter mungkin tidak begitu familier dipendengaran kita ketimbang iman, doa, dll. Dalam alkitab terjemahan LAI pun tidak ditemukan kata ini. Di gerejapun jarang kita dengar kata ini. Padahal yang namanya karakter itu sangat penting, saking pentingnya karakter itu akan menentukan kesuksesan kita secara rohani dan jasmani.

What is character? Artinya sangat abstrak dan sulit untuk mendefenisikannya. Tapi dengan singkat karakter itu bisa dibilang siapa diri kita sebenarnya. Maksudnya karakter itu adalah inti dari diri kita. Sama seprti harta karun yang tersembunyi dalam diri kita. Tidak ada yang tau gimana bentuknya atau siapa yang taroh karakter disana. Tapi yang pasti karkter itu tersembunyi. Adanya dalam diri kita yang paling terdalam. Gimana kita menjalani hidup kita menunjukan gimana karakter kita. Karakter itu akan menunjukan siapa sih kita sebenarnya, kata “Leonardo Syamsjuri”.

Tiap orang mempunyai karakter yang berbeda, tergantung sama sifat bawaan/tempramen yang dibawa dan bagaimana kebiasaan dia melakukan sesuatu. Cara tiap orang melakukan sesuatu bisa berbeda tergantung suku, keluarga, tempat dimana dia dibesarin.

Mengapa penting?

Roh Tuhan bisa membuat kita berada di puncak gunung, tapi karakterlah yang akan membuat kita tetap berahan disana “Robert Liadron”

Mungkin kita masih ingat banyak hamba Tuhan terkenal jatuh dalam dosa beberapa tahun terakhir ini. Padahal mereka sudah sangat terkenal sebagai hamba Tuhan yang diurapi.. diantaranya Roberts Liadron, Jim Carrey, dll. Ada satu kisah nyata yang cukup mengguncang dunia. Skandal Pendeta Jesse Jackson. Pada 18 Januari 2001, Pendeta Jesse Jackson mengaku di depan publik bahwa ia memiliki anak di luar nikah berusia dua puluh bulan. Pengakuan ini menggegerkan publik. Siapa yang tak kaget mendengar seorang barometer spiritual masyarakat Amerika ternyata berselingkuh sejak tahun 1998? Skandal ini lebih dahsyat daripada skandal Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Mengapa? Karena Jesse Jackson adalah seorang tokoh spiritual yang selain menjadi pendeta, juga memainkan peran penting sebagai seorang politikus dan pejuang hak asasi manusia. Bahkan, saat sedang terlibat dalam perselingkuhan, dia tetap menjadi konselor Clinton dalam kasus Monica Lewinsky.

Kalau kita punya karakter yang baik, Tuhan bisa kasih sama kita apa saja yang dia mau dan dijamin kita bisa lakukan semuanya. Ada banyak cerita dalam alkitab tentang hamba Tuhan yang seharusnya dipakai Tuhan secara luar biasa tapi kisah hidupnya penuh dengan kegagalan karena karakternya yang hancur, seperti Samson, Salomo, Hitler, dll.

BERHENTILAH MERASA KHAWATIR

BERHENTILAH MERASA KHAWATIR

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu. Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok memiliki kesusahannya tersendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Matius 6:25-29, 34).

Apakah Anda terbiasa merasa khawatir? Apakah Anda menghabiskan sebagian besar perhatian dan tenaga untuk khawatir terhadap berbagai kesalahan masa lampau atau pikiran tentang masa mendatang? Bagaimana Anda menilai dengan jujur tentang apa yang Anda dapatkan di saat merasa kuatir? Apa yang Anda peroleh dari pekerjaan yang hanya berdasarkan pada kekhawatiran? Jika langkah pertama untuk menjadi pemimpin efektif terhadap orang lain adalah terlebih dahulu menjadi pemimpin diri sendiri yang efektif, apakah terus-menerus merasa khawatir merupakan ciri dari seorang pemimpin yang baik?

Yesus pernah menyampaikan pemikiran-Nya sebagai suatu analisis yang cukup mendalam, yaitu mengenai kegagalan karena sebuah kekhawatiran. Firman-Nya mengenai hal ini merupakan yang paling puitis dan tajam: "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung .... Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berbakaian seindah salah satu dari bunga itu." Tentunya, burung-burung dan bunga-bunga di ladang tidak pernah tergesa-gesa karena kekhawatiran terhadap berbagai kesalahan masa lampau atau bencana di masa mendatang. Pada dasarnya, mereka itu selalu baik adanya. Kenyataannya, mereka lebih daripada sekadar baik dengan tampak melayang tinggi di udara dan menikmati keindahan bumi yang memiliki gambaran hidup yang luar biasa indah dan keharuman teramat mewah. "Mengapa harus kuatir?" tanya Yesus. Sangatlah tidak masuk akal.

Namun, sisi estetis dari orasi Yesus memuat lebih daripada sekadar prosa puitis tentang alam. Kenyataannya, bagian yang paling saya sukai dari filosofi-Nya tentang anjuran untuk membebaskan diri dari kekhawatiran berkaitan dengan akibat kekhawatiran itu sendiri. "Dan siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?" Dalam Injil Lukas 12:26, Ia menambahkan, "Jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?" Kita ditawarkan tantangan yang lebih mendalam untuk menggambarkan seluruh tenaga dan waktu yang terbuang karena kekhawatiran. Sebenarnya, jika kita memang bukan orang yang suka menderita, kita tidak akan mengalami proses munculnya kekhawatiran itu sendiri. Seperti yang ditunjukkan Yesus, bahwa hal itu tidak dapat dimasukkan ke dalam kehidupan kita sekecil apa pun bentuknya pada waktu tertentu. Kenyataannya, setumpuk bukti medis menunjukkan hal yang sebaliknya; bahwa stres yang disebabkan oleh kekhawatiran dapat menimbulkan berbagai permasalahan pribadi, termasuk semua penyakit yang secara dramatis dapat memperpendek usia seseorang, misalnya kanker, penyakit jantung, dan banyak lainnya. Yang pasti, kekhawatiran sama sekali tidak dapat sedikit pun memperpanjang usia, namun justru memperpendeknya, dan sering kali begitu dramatis.

Stres yang berasal dari pergumulan diri seseorang dan tumpukan dari tekanan yang memerlukan perhatian kita di dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi kita dapat disangkal sebagai penyebab lebih banyak lagi gangguan kesehatan dan psikologis daripada sumber lainnya. Banyak penelitian yang menuduh stres sebagai penyebab berbagai gangguan penyakit dan memerlukan biaya penyembuhan miliaran dolar. (Biaya untuk mengatasi stres akibat pekerjaan di AS diperkirakan menghabiskan sekitar 200 miliar setahun.) Tidaklah mengherankan jika kemudian stres dianggap sebagai penyakit abad ke-20 oleh ILO (International Labour Organization) yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dapatlah dikatakan secara sederhana bahwa stres dapat membuat hidup kita menjadi kacau. Suatu kandungan yang sangat berbahaya dari stres yang merusak adalah proses mental yang kita sebut kekhawatiran.

Meskipun pengetahuan dan praktik kesehatan berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, epidemi dari kekhawatiran yang destruktif dan stres masih terus berlangsung. Sebagai contoh, salah satu perhatian utama masyarakat akhir-akhir ini adalah ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Sebuah survei yang dilakukan terhadap 2,2 juta orang selama empat tahun terakhir ini, telah menemukan bahwa hampir setengah dari pekerja di AS merasa khawatir akan kehilangan pekerjaan. Lebih lanjut, hampir setengahnya pula percaya bahwa kinerja yang baik tidak akan menghindarkan mereka dari PHK oleh pemilik perusahaan yang tidak loyal. Ketika pertimbangan semacam itu dipahami sebagai penyebab banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan, ada hal menarik untuk dicatat bahwa kekhawatiran yang meluas ini terjadi pada saat pengangguran berada pada tingkat yang paling rendah.

Kenyataan telah menunjukkan bahwa kekhawatiran dan stres dapat menjadi berbahaya bukanlah hal yang baru bagi kita; kita telah mendengar tentang semua itu sebelumnya. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari kita dapat menerima dan mempercayai pesan yang berkelanjutan ini. Masalahnva, melakukan sesuatu hal terhadap proses kekhawatiran merupakan suatu tantangan yang paling sulit dipahami dalam kehidupan manusia.

Kekhawatiran dapat mengarah pada kekosongan fisik, penyakit, gangguan psikologis, dan mengacaukan hubungan antarpribadi. Kehidupan saya telah dipenuhi dengan bukti-bukti mengenai kapasitas kekhawatiran yang destruktif. Pada perjalanan karier sebelumnya dalam bidang ritel, saya pernah memunyai seorang pimpinan yang diketahui mengidap suatu kekhawatiran yang sangat ekstensif sehingga mengalami insomnia yang berkepanjangan. Ia juga mengidap gangguan pada lambung yang membuatnya sering sakit. Ada juga kawan sekerja yang mengakui bahwa ia menjadi peminum berat setiap malam untuk meredam sakitnya itu. Seorang kawan lainnya meyakini sekali bahwa seorang teman dekatnya meninggal karena mengidap kanker yang disebabkan oleh kekhawatiran selama bertahun-tahun di dalam pekerjaannya. Banyak kasus semacam ini yang tidak terhitung jumlahnya. Saya sendiri pernah memunyai pengalaman kehabisan energi dan berbagai gejala fisik lainnya selama kehidupan saya yang dipenuhi oleh stres. Jadi, mengatasi kekhawatiran telah menjadi hal yang sangat penting bagi saya. Terutama, seperti telah dikemukakan pada bagian awal, banyak bukti menunjukkan adanya hubungan antara kekhawatiran yang menyebabkan stres dengan penyakit, penyalahgunaan narkoba dan alkohol; dan menjadi sumber utama dari penyakit yang paling buruk bagi kehidupan manusia.

Di tengah masyarakat yang bergerak begitu cepat dan penuh persaingan, muncul di mana-mana buku dan seminar yang menjelaskan usaha untuk menolong diri sendiri dengan menawarkan berbagai macam teknik yang menjamin mampu mengusir segala bentuk ketakutan dan kekhawatiran dari kehidupan kita. Beberapa dari buku dan seminar sebagai pengobatan yang potensial ini, sayangnya hanya memberikan suatu kelegaan yang bersifat sementara, penyembuhan jangka pendek, dan terbatas pada orang-orang tertentu. Apa yang sebenarnya diperlukan adalah sesuatu yang lebih meresap ke dalam keseluruhan sistem kepercayaan kita, mudah dipahami, dan memiliki strategi yang sesuai dengan perilaku dan terarah untuk mengatasi seluruh proses kekhawatiran yang begitu menggoda. Pengobatan riil terhadap kekhawatiran dapat bersandar pada perubahan mendasar dari cara kita melihat diri dan kehidupan kita sehari-hari.

Secara pribadi, saya menemukan falsafah dan resep yang bermanfaat untuk membantu diri sendiri secara psikologis tapi selalu saja tidak mencukupi. Seperti halnya kebanyakan orang, saya melanjutkan pencarian pada sumber kedamaian dan kebahagiaan yang mampu memberikan suatu dasar yang kokoh bagi kesehatan, kehidupan penuh vitalitas dari pribadi yang efektif, dengan sedikit dasar kekhawatiran, dan usaha mengurangi pemborosan energi. Dalam pencarian saya yang lebih luas itu, tak satu pun falsafah bermakna paling dalam yang saya temui daripada seperti yang sudah ditawarkan Yesus pada sekitar dua ribu tahun yang lampau.

Yesus tidak memerlukan suatu bukti penelitian kontemporer untuk membuat posisinya meyakinkan orang lain. Kekhawatiran dan stres yang bersifat negatif menyebabkan kita menjauh dari kebahagiaan hidup kita sehari-hari secara dramatis dan tanpa nilai apa pun. Kekhawatiran akan menyelimuti pikiran kita dengan berbagai pikiran yang sangat mengganggu dan menyebabkan badan kita jelas-jelas teramat sakit, lelah, dan bersikap kasar. Meskipun kita percaya bahwa itu menjadi tanda dari perasaan cinta pada orang yang kita khawatirkan, namun hal itu justru telah mengurangi kemampuan kita untuk mencintai.

Jadi, apa yang harus kita lakukan dalam menghadapi kekhawatiran? Yesus mengusulkan dua strategi penting. Pertama, kenalilah kekhawatiran kita dan berbagai kegagalan yang ditimbulkannya. Dengan demikian, kita dapat mengambil manfaat dari pemikiran kita daripada membiarkan kekhawatiran bergerak liar merusak pikiran dan energi kita. Sebagai gantinya, kita dapat menjadi lebih waspada dan memahami kerugian yang ditimbulkannya. Ini merupakan langkah pertama yang sangat penting karena dapat membentuk suatu dasar, terutama motivasi, untuk berubah. Kedua, Yesus memberikan dorongan kepada kita untuk tidak mengkhawatirkan hari esok sehingga kita mampu membiarkan masalah hari ini hanya untuk hari ini. Nasihat seperti ini sangat konsisten dengan kebijaksanaan umum yang mengimbau kita untuk memusatkan perhatian pada keadaan hidup saat ini saja.

Tentunya, masih banyak resep lainnya yang disediakan oleh Yesus untuk membangun falsafah yang dapat mengatasi kekhawatiran. Contohnya, satu pendekatan berdasarkan prosedur Rowland Folensbee (Direktur klinik penyembuhan kekhawatiran di Houston) yang mencakup tiga langkah utama, yaitu:

  1. kenalilah kekhawatiran itu sedini mungkin;
  2. selingilah kekhawatiran yang kita alami dengan berbagai teknik, seperti relaksasi semua otot secara progresif atau meditasi (Yesus akan menyarankan untuk berdoa);
  3. luangkanlah waktu selama tiga puluh menit setiap harinya untuk merasa khawatir.

Ya, memang benar, langkah terakhir tersebut kita gunakan untuk memakai rasa khawatir kita dengan mengikatnya selama setengah jam setiap harinya. Daripada membiarkan kekhawatiran berjalan tidak terkendali, kita diminta untuk merangkum seluruh kekhawatiran kita dan kemudian memberikan kesempatan untuk mengendalikan dosisnya (tidak seperti suntikan untuk menyembuhkan suatu penyakit) sesuai dengan waktu yang telah kita tentukan.

Banyak klien yang berpengalaman di dalam mengurangi kekhawatiran sebanyak hampir lima puluh persen telah menggunakan prosedur ini. Sebagai contoh, seorang direktur utama perusahaan asuransi dilaporkan menderita perasaan khawatir yang sangat kronis selama hidupnya. Ia merasa begitu lelah karena kurang tidur pada malam harinya dan menurun produktivitas serta kualitas hidupnya. Setelah menerapkan prosedur pengurangan kekhawatiran selama beberapa bulan, kekhawatirannya berangsur lenyap. Dia mengungkapkan, "Ketika saya sedang berada dalam masa mengatur diri untuk merasa khawatir, justru pada separuh dari waktu yang ada saya mengalami kesulitan untuk merasa khawatir."

Yesus pun justru bertanya, mengapa kita tidak mengendalikan kekhawatiran itu dan bukan sebaliknya kekhawatiran yang mengendalikan kita? Jika kita mampu mengendalikan kekhawatiran secara efektif, hal itu akan menjadi salah satu rahmat yang sangat memberdayakan diri kita sendiri. Selain itu, akan menjadi langkah nyata yang mengarah pada perbaikan luar biasa atas kemampuan kita dalam memimpin diri sendiri dan orang lain sehingga mereka pun mampu memberdayakan diri mereka sendiri.

Kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi vitalitas dan kemampuan yang diperlukan seorang pemimpin di dalam memimpin dirinya sendiri dan orang lain...

Hedonisme

Topik tentang Hedonisme jarang dibahas di gereja Tuhan dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap istilah Hedonisme. Oleh sebab itu Hedonisme diangkat penulis sebagai sebuah topik yang perlu diketahui oleh setiap orang percaya, sebab sadar atau tidak budaya ini telah menjadi bagian dari hidup manusia modern. Seorang hedonis adalah orang yang mengejar kebahagiaan dengan mencari perasaan-perasaan yang menyenangkan, yang nikmat sebanyak mungkin dan sedapat-dapatnya menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak. Dengan demikian akan ada banyak orang yang akan lari dari kenyataan dalam menghadapi kehidupan yang kian hari semakin sulit.

Perilaku manusia modern pada saat ini lebih bersifat individualitis dan materialistis. Para hedonis mempunyai tujuan bahwa manusia harus menikmati apa yang ada di dunia ini dengan sepuas-puasnya. Anwar Faizal dalam Harian Suara Merdeka mengatakan bahwa,

“Apapun tujuan akhirnya adalah kenikmatan dan kepuasan. Tidak heran banyak dari antara mereka yang bermobil mewah, menenteng HP yang mahal, pakaian yang mahal, dan atribut sosial lainnya guna mencapai kenikmatan.”[1]

Seks merupakan anugerah mulia yang diberikan Tuhan disalahgunakan oleh para hedonis untuk memuaskan keinginan mereka. RB. Yoga Kuswandono, S.Psi, seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Katholik Soegijapranata Semarang mengatakan dalam Harian Suara Merdeka bahwa, “Beberapa mahasiswa hedonis melakukan aktivitas seksualnya berdasarkan alasan just for fun. Yang penting happy.”[2] Gaya hedonis ini pada dasarnya hanya berorientasi pada kepuasan sesaat. Kadang juga menggunakan kedok “atas nama cinta”. Apakah aktivitas itu dosa atau tidak mereka tidak peduli.

Perkembangan yang terjadi pada saat ini disatu sisi menawarkan berbagai kesenangan, kesejahteraan dan kenikmatan yang membanggakan namun di sisi lain mengokohkan akar hedonisme dan memberikan bayangan keberuntungan dan kemajuan secara material dan fisik sebanyak dan setinggi mungkin. Akibatnya terjadi perubahan dalam kehidupan manusia yang bermuatan moral religius. Moral kemanusian akhirnya mengalami kehilangan arah, bahkan nilai-nilai religius mengalami keruntuhan.

Pergeseran nilai-nilai dari suatu barang dari pemuas kebutuhan fisik menjadi pemuas kebutuhan psikologi yang telah menciptakan sikap hidup hedonisme yang sangat terasa dalam corak hidup masyarakat. Kalau mau jujur waktu membeli sebuah produk sering orientasi pemikiran manusia modern bukan pada fungsi barang tersebut melainkan pada gengsinya. Gembala Sidang Gereja Kristus Tuhan Nazareth Surabaya, Martinus Zega menegaskan dalam Tabloid rohani Gloria bahwa, “Sikap hidup semacam ini merupakan sikap hedonis yang mau mendapatkan kenikmatan dengan tujuan hanya pada gengsi.[3]

Seringkali orang mengukur kesenangan hidup dari seberapa banyak harta yang telah ia kumpulkan, sehingga tidak sulit bagi dia untuk membeli dan memenuhi segala sesuatu yang diinginkannya. Keadaan seperti ini akan memunculkan anggapan bahwa tidak ada satupun yang tidak dapat diselesaikan kalau memiliki uang. Kebergantungan manusia terhadap kekayaan dalam arti uang dan harta benda semakin tinggi. Dan tentu saja itu berarti prinsip hidup hedonisme sudah semakin merajalela di dunia modern yang konsumtif ini. Tidak cukup sampai disitu, biasanya mereka akan terus mencari dan mengumpulkan harta tanpa merasa puas.

Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan, kepuasan, dan kenikmatan bagi dirinya sendiri dan menjauhkan diri dari penderitaan dan kesengsaraan merupakan filosofi dari paham hedonisme.

Menghadapi paham Hedonisme, gereja harus lebih proaktif memahami semua tantangan yang terjadi. Gereja harus terus berupaya agar jemaat Tuhan lebih ditanamkan kepribadian yang kuat agar tidak dijerat atau digoda dengan sesuatu yang hanya bersifat sementara atau kesenangan duniawi. Pastor Dr. Johanes Ohoitimur MSC, dalam Gloria CyberNet Minstry mengatakan bahwa,

“Sangat tepat jika gereja mengembangkan dan menanamkan sikap spiritualisme Kristen sejati yaitu cinta kasih dan sikap rela berkorban yang merupakan cermin dari salib Kristus. Jangan sampai lebih mengandalkan keinginan inderawi. Kuncinya adalah jangan pernah memuja kesenangan.”[4]


Hidup dalam Pengharapan

Hidup dalam masa kesultan saat ini. Krismon – kristal – krisdayanti. Bagi orang kriste n hidup dalam pengharapan. (Rom 15:13). Allah ingin kita berjalan dalamnnya (Rom 5:5) tidak menecewakan.

Ilustrasi: Seorang Profesor dan dua ekor tikus. Tikus membutuhkan pengharapan, apalagi manusia. Ciri-ciri orang yang hidup dalam pengaharapan:

1. Teguh dalam kesulitan --- mengapa karena memiliki cara pandang yang berbeda. Semua manusia memiliki kesulitan, tapi berbeda denagn orang berharap pada Tuhan karena punya cara pandang yang berbeda (Ib 6:19), diibaratkan sebuah jangkar. Saya teringat akan kisah Daud (1 Sam 30:1-6). Ayat emas 6 bukti keprcayaan dan penharapan dalam Tuhan, dan orang itu pasti teguh. Tidak cepat putus asa, patah semangat tapi kuat. Orang besar adalah orang yang teguh dalam menghadapi masalah. (Ilustrasi: kisah Julius Iglesias).

2. Yakin memiliki masa depan yang cerah --- Kasi membuat segalanya menjadi mudah, iman membuat segalanya menjadi mungkin, pengharapan membuat segalanya menjadi cerah. Janji Tuhan (Yer 29:11). Saya teringat ada seorang anak yang diberi nama anak sial ketika dia lahir ((I Taw 4:9:10). Nama Selamat, Cecep Gorbachev, Made in Hongkong. Nama sial. Orang bisa merencanakan kecelakaan namun Allah tidak pada kita. (Thomas A Edison, Abraham Lincoln sekolah hanya 4 bulan saja.

3. Bersyukur dalam segala keadaan --- ciri ketiga adalah tidak lupa berterima kasih atau bersyukur (Fil 1:3,5,12). Bahkan ketika dipenjara dengan silas pun tetap bersyukur Filipi.

Cirri orang yang hidup dalam pengharapan:

1. Bersukacita dalam kesesakan (Rom 12:12, Hab 3:17-19).

2. Pengharapan bias mempengaruhi kesehatan (Ams 17:22)

Dr An Cracker dari Australia mengatakan orang yang banyak tertawa lebih sedikit sakit daripada yang tegang. Saya percaya jika tertawa dijual di apotik maka akan laku dan dokter beri resep tertawalah 3 kali sehari setelah makan.

Madonna Disalib

Madonna Disalib

Madonna telah mengeluarkan pernyataan tentang adegan penyaliban yang konteoversial dalam tour dunianya dan menyebut banyak orang telah salah mengartikan makna adegan tersebut.

Selama pertunjukannya, Madonna tampil di panggung diatas salib berkilau dan mengambil gerakan penyaliban – satu gambaran yang membuat terkejut banyak pengikut Katolik dan menyulut protest diluar lokasi konser penyanyi Material Girl ini.

Madonna mengeluarkan penyataan, “Saya amat bersyukur bahwa pertunjukansaya dengan baik diterima di seluruh dunia. Namun kelihatannya bayak yang salah mengerti tentang penampilan saya diatas salib itu dan saya ingin menjelaskan hal itu sekali lagi dari saya untuk semua orang. Ada segment dalam acara itu dimana ada tiga orang penari saya mengaku atau membagikan pengalaman menyakitkan dari masa kecil mereka dimana akhirnya mereka kalahkan. Pengakuan saya kemudian mengikuti hal itu dan mengambil tempat diatas salib yang akhirnya saya turuni juga. Ini bukan mengina gereja. Ini tidak beda dengan orang yang memakai salib atau meninggikan salib seperti yang dikatakan dalam Alkitab.penampilan saya bukan wujud anti kekristenan, anti pengorbanan, atau menggoyang sesuatu. Tapi ini adalah alasan saya bagi pemirsa untuk mendukung umat manusia untuk menolong satu sama lain. Saya percaya dalam hati saya bahwa jika Yesus hidup saat ini Dia akan melakukan hal yang sama.

Madonna merangkumkan pernyataan dengan mengajukan kritik: Tolong, jangan membuat penghakiman tanpa melihat pertunjukan saya.

Namun Madonna juga lupa bahwa Alkitab amat melarang tindakan yang bisa menjadi batu sandungan dan membuat orang memiliki prasangka buruk, alias dibutuhkan sikap bijaksana untu melakukan sesuatu, apalagi jika itu berimplikasi melukai hati sekelompok umat.