Senin, 19 April 2010

Bibit Firman Allah (Lukas 8:11-15)

“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.


PINGGIR JALAN
Lukas 8:12
Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Ini cerita tentatang orang yang telah mendengar kebenaran Firman Tuhan tetapi mereka tidak mau mempercayainya. Mereka datang ke gereja dan mungkin ada ditengah-tengah kita, tetapi baginya semua agama itu sama saja dan dapat membawa kepada keselamatan. Firman yang disampaikan setiap minggunya hanya melewati telinganya saja tidak masuk dalam hatinya.

Orang tersebut dalam II Timotius 3:5 dikatakan, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”

Jangan dikira semua orang kristen yang datang kegereja itu akan diselamatkan. Apalagi yang mengaku kristen tetapi tidak pernah kegereja. Keselamatan itu bukan status, keselamatan itu anugrah dan kita menerimanya dengan iman seperti yang tertulis dalam Efesus 2:8, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”. Jadi jika kita tidak percaya akan berita injil, bagaimana kita bisa disebut selamat sedangkan Firman Tuhan dalam Lukas 8:12 mengatakan mereka “tidak diselamatkan”.

Bangsa Israel yang dilepaskan dari perbudakan Mesir telah berjalan selama 40 tahun di padang gurun untuk menuju negri perjanjian, tetapi mereka semua akhirnya mati dan tidak ada angkatan mereka yang masuk kedalam negri perjanjian tersebut, bahkan dengan bersumpah Allah memastikan angkatan tersebut tidak masuk ke negri kekal tersebut (Ibrani 3:7-11, Bilangan 32:10-13). Mengapa dan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan tentang mereka? Ibrani 3:19 menuliskan demikian, “Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.”

Firman Tuhan yang kita dengar atau baca jangan hanya selalu melewati telinga kita, setelah itu lupa. Firman itu harus masuk sampai kedalam hati kita, Yakobus 1:21 mengatakan, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.”

Firman Tuhan itu harus kita terima dalam hati kita dengan lemah-lembut, bukan dengan keras atau keraguan. Tidak peduli siapapun yang menyampaikan, apakah masih kecil, atau baru belajar atau bekas orang dursila asalkan ada Roh Allah didalamnya (Yohanes 3:34), Tuhan pakai mulutnya. Bahkan binatang seperti keledai dapat dipakai Allah (2 Petrus 2:16). Firman Tuhan menasihati kita, bahwa dari buahnya kita mengenali orang, apakah itu palsu atau dari Allah (Matius 7:16-19). Jangan hanya karena tidak suka atas orangnya lalu kita menolak Firman Tuhan. Sayang jika Firman itu dicuri oleh Iblis.

Karena itu buang segala sesuatu yang kotor dan jahat dari hati kita. Hati manusia itu penuh dengan perkara kotor dan jahat kata Matius 15:19, tanpa ada yang mengajari, Kain, dari dalam hatinya melahirkan pembunuhan manusia pertama (Kejadian 4:6-8). Jika hati manusia sekotor dan sejahat itu bagaimana dapat menerima Firman Tuhan dengan lemah lembut?

Tetapi syukur kepada Allah, Yehezhiek 36:25-27 mengatakan, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”

Hati yang baru yang dijanjikan Tuhan merupakan kehidupan baru (Efesus 4:22-24), dimana kita dapat menerima dengan lemah lembut Firman Tuhan dan mentaatinya. Dengan hati yang baru kita dapat memelihara rahasia iman (I Timotius 3:9).

Seperti halnya Yohannes Pembaptis diutus kedunia ini untuk meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus (Lukas 7:27), demikian juga dengan hati yang baru merupakan jalan bagi kita untuk memperoleh keselamatan yang dari Allah. Seperti yang dijelaskan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 3:3-6,

Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu, seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”

Baptisan air yang diajarkan oleh Yohenas Pembaptis adalah penggenapan Yehezkiel 36:25-26 untuk mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi Tuhan Yesus. Mempersiapkan hati-hati yang dapat menerima Firman Allah dan mentaatiNya. Meluruskan hati kita yang berlekuk-lekuk, berliku-liku. I Petrus 3:21 mengatakan, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan–maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah.”

Pada saat Tuhan Yesus menyampaikan berita keselamatan, mereka yang telah dibabtis oleh Yohanes Pembaptis segera percaya kepadaNya sedangkan mereka yang menolak “hati yang baru” tidak dapat percaya kepadaNya. Hal ini jalas diceritakan dalam Lukas 7:29-30.

Hati ini adalah sumber kehidupan. Tidak salah jika Amsal 4:23 mengatakan, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Sebab mereka yang tidak mau menjaga hatinya dari perkara kotor dan jahat Firman Tuhan dalam 1 Timotius 1:19 mengatakan “imannya kandas”. Seperti bangsa Israel yang keluar dari Mesir, tak satupun yang selamat sebab imannya telah kandas… Bukankah Allah sendiri yang mengatakan bahwa mereka angkatan yang memiliki hati sesat (Ibrani 3:9).


TANAH BERBATUAN
Lukas 8:13
Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Adalah gambaran orang kristen yang hanya senang mendengar Firman Tuhan tetapi tidak melakukannya. Tuhan Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang tertulis dalam Lukas 6:47-49,

“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Keduanya kelihatan sama, tetapi saat banjir datang, saat pencobaan datang, saat penindasan dan aniaya, dikucilkan dan disingkirkan karena Kristus, segera ia meninggalkan imannya. Mungkin masih tetap kristen dan ke gereja, tetapi ia telah mati, hidup tidak lagi menurut Firman Tuhan, sebagaimana dunia menuntut seperti itulah ia hidup. Bahkan mungkin ada yang telah berpindah agama. Yakobus 2:26 mengatakan tentang mereka, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”

Setelah kita mengetahui Firman Tuhan, maka Tuhan menuntut kita mentaatinya, mungkin kelihatan aneh dan berat bagi kita jika kita melakukannnya, tetapi seperti yang dikatakan oleh Roma 1:17, kebenaran itu bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Saat kita membaca atau mendengar Firman Tuhan, maka akan timbul iman (Roma 10:17) dan pada saat kita melakukan dan mentaati Firman Tuhan tersebut maka iman yang tersebut menjadi nyata dan semakin nyata, seperti yang dikatakan oleh Yakobus 2:22, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”

Hal itu sama seperti kita sedang menaman pondasi yang kokoh bagi rumah kita sehingga pada saat badai datang kita tetap berdiri teguh didalam iman. Karena kita melihat iman yang nyata.

Mendengar Firman Tuhan itu baik, beberapa orang malah senang mendengarkan kebenaran Firman Tuhan, apalagi jika banyak pembukaan rahasia Allah yang dalam-dalam. Tetapi untuk mentaati seluruh Firman Tuhan (Yakobus 4:17), beberapa orang menyeleksinya dengan akal pikiran, mana yang patut dilakukan dan mana yang hanya merupakan sedap-sedapan telinga (Markus 6:20, II Timotius 4:3). Oleh karena itu, Tuhan katakan mereka “tidak berakar” sebentar saja oleh pencobaan segera bersungut-sunggut, menyalahkan Tuhan dan bahkan sampai murtad meninggalkan Tuhan.

Jangan hanya menjadi pendengar saja, jadilah pelaku Firman. Yakobus 1:22 mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Seakan-akan beriman, tetapi sebenarnya tidak masuk hitungan Allah. Merasa dirinya sebagai orang yang diselamatkan, tetapi Firman Tuhan dalam Yohanes 3:36 mengatakan sesungguhnya murka Allah masih tetap ada diatasnya. Jangan bodoh, mendengar itu baik, bahkan pilihan terbaik kata Lukas 10:39-42 dan Pengkotbah 4:17 tetapi mentaati Firman Allah itu jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah (Matius 7:21-23), jalan kepada Bapa di Surga (Yohanes 14:6 à Yohanes 1:14).

Tuhan katakan dalam 1 Korintus 3:11-13, bahwa bangunan iman kita suatu kali pasti akan diuji dan diuji dengan api, apakah kita membangun dengan kokoh atau tidak akan nyata kelak. Masa pencobaan itu akan menimpa setiap orang kristen. Satu kebenaran yang harus kita ingat, bahwa walau pencobaan itu datang tetapi tidak akan melibihi kekuatan kita, Allah tidak mengijinkan iblis mencobai lebih dari kekuatan kita, itu janji Tuhan dalam 1 Korintus 10:13. Berdoa dan berjaga-jagalah agar kita tidak jatuh pada saat pencobaan datang (Matius 26:41). Tetapi jikalau kita dapat melewatinya, Yakobus 1:12 mengatakan, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.”


SEMAK BERDURI
Lukas 8:15
Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Jika yang jatuh di tanah berbatuan adalah mereka yang mendengar Firman Tuhan dan tidak melakukannya, maka yang ditabur di semak berduri adalah mereka yang mendengar Firman Tuhan dan juga melakukannya. Mereka mentaati Firman Tuhan dalam hidupnya. Mencocokan hidupnya dengan kebenaran. Mereka betumbuh!

Tetapi ada tiga hal yang membuat mereka tidak berbuah. KEKAWATIRAN, KEKAYAAN dan KENIKMATAN HIDUP. Tiga hal ini yang sering kali menghambat pertumbuhan orang kristen dan membuat mereka tidak menghasilkan.

KEKAWATIRAN
Firman Tuhan dalam Matius 6:27 mengatakan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

Kawatir ini sering kali membuat anak Tuhan panik dan mencari jalan sendiri. Mereka tidak dapat melihat apa yang tidak kelihatan. Seperti pelayan Elisa yang kawatir dan panik saat melihat kepungan Raja Aram dalam II Raja-raja 6:15-17, setelah matanya celik ia melihat perlindungan dan pemeliharaan Allah yang luar biasa. Demikian juga dengan kita, kawatir atas hidup ini, atas masa depan kita atau atas penghidupan kita. Mintalah mata kita dicelikan oleh Tuhan.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)

Berdoalah dan berserulah pada Tuhan, Ia pasti akan menolong kita (Mazmur 50:15). Hidup kita didunia ini hanyalah sementara, fana dan sia-sia. Untuk apakah kita kawatir atas dunia ini yang akan binasa sementara Allah berjanji akan memelihara kita (Lukas 12:22-31), dan tidak akan membiarkan atau meninggalkan kita sendirian (Ibrani 13:5). Imannuel Allah beserta kita.

Jangalah masalah kekawatiran dunia ini membuat kita tidak dapat berbuah. Membuat kita mencari jalan lain, membuat kita menunda melaksanakan kehendak Allah.

KEKAYAAN
Firman Tuhan dalam Amsal 23:4 mengatakan, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.”

Semua orang ingin kaya, bahkan banyak pendeta mengajarkan berkat dan kekayaan. Tetapi sesungguhnya Firman Tuhan malah berkata “Jangan bersusah payah menjadi kaya” Jelas dan tidak dapat dibantah. Jika keinginan untuk menjadi kaya itu ada didalam hati kita, maka benarlah apa yang tertulis dalam I Timotius 6:9-10,

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Beberapa banyak orang kristen yang telah bertumbuh, hidup mentaati Firman Tuhan, tetapi saat uang itu datang dan mengalir dan terhambat dan tersendat maka ia mulai mengejar “kekurangan” itu bahkan dengan segala cara yang “halal” dengan “hanya” mengorbankan waktu ibadah, waktu saat teduh dan waktu bersekutu. Tetapi sesungguhnya ia telah mengorbankan segala-galanya (Lukas 9:25). Ia lupa bahwa ia tidak kekurangan, bahwa ia kecukupan dalam segala sesuatu (II Korintus 9:8), makan, minum, pakaian, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. Orang kristen yang terjebak dalam keinginan kaya, mereka hanya mengejar kesia-siaan (Amsal 23:4-5). Tidak akan pernah dapat puas walau berkecukupan tetapi selalu merasa kurang dan kurang dan kurang (Pengkotbah 5:10).

Tidak ingatkah bahwa Tuhan yang membuat manusia kaya (1 Samuel 2:7, Ulangan 8:17-18). Ia juga yang membuat manusia ini atau itu yang menikmati kekayaannya, walaupun ia dapat mengumpulkan kekayaan yang berlimpah, tetapi mereka yang dapat menikmati hanya mereka yang beroleh anugrah (Pengkotbah 6:2, 1 Timotius 6:17).

Jangan karena mengejar kekayaan kita meninggalkan ibadah kita, saat teduh kita dan persekutuan kita. Cukuplah dengan apa yang ada (Ibrani 13:5), sebab kita sebenarnya tidak kekurangan dan malah berkelimpahan. Waktu ini berharga jangan dikorbankan hanya untuk mencari uang lebih (1 Petrus 4:2).

KENIKMATAN HIDUP
Tipu daya iblis adalah menawarka kenikmatan dalam hidup ini. Kenikmatan atas apa? Kenikmatan hidup sama dengan kenikmatan daging. Kata nikmat hanya untuk daging ini.

Banyak orang kristen yang diberkati, hidup lebih baik, lebih makmur dan dapat menikmati hidup ini tentu saja di dunia. Mereka yang telah menikmatinya akan sulit meninggalkannya, mereka yang telah hidup enak akan sulit untuk hidup sengsara. Orang ini seperti yang diceritakan dalam Lukas 5:39, “Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

Kenikmatan hidup di dunia ini dapat membuat api anak padam. Lambat laun ia semakin dekat dengan dunia, lambat laun dia semakin jauh hatinya dari Bapa. Bukankah sudah tertulis dalam I Yohanes 2:15-16, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Kenikmatan hidup ada tipu daya iblis.

Jangan ingin hidup enak didunia ini, Firman Tuhan mengajarkan agar kita berjalan di jalan sempit (Matius 7:13-14), jalan yang penuh dengan sengsara salib dan penyangkalan diri (Lukas 9:23). Tetapi seperti halnya anggur tua, siapa yang telah menikmati kenikmatan hidup di dunia ini akan sulit untuk memikul salib dan menyangkal diri.

Kisah Para Rasul 14:22 malah menyebutkan, “… dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” Sengsara bagi daging ini dan tidak malah melazatkan daging ini kata Roma 13:14.

Jangan bodoh, kita tahu apa maksud iblis (II Korintus 2:11), ia ingin agar kita menikmati daging ini dan membuat keinginan daging ini menjadi semakin kuat sehingga sesuai dengan Roma 8:5-8, kita akan semakin jauh dari Allah dan akhirnya binasa didalam kenikmatan dunia (Roma 8:13, Yohanes 8:44). Jangan suka hidup enak!


TANAH YANG BAIK
Lukas 8:16
Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Tuhan menghendaki kita menjadi “tanah yang baik” sehingga benih Firman Tuhan yang ditaburkan didalam “hati yang baru” dapat bertumbuh dan menghasilkan buah didalam kebenaran.

Satu kata yang penting dari menghasilkan buah adalah KETEKUNAN. Beda tanah yang baik dengan tanah bebatuan adalah pada batunya. Pencobaan yang dialami dapat membuat mereka yang disebut “Tanah Bebatuan” menjadi murtad dan meninggalkan Tuhan, sebaliknya “Tanah yang Baik” malah menjadi jalan untuk menghasilkan buah. Yakobus 1:2-4 mengatakan,

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

“Tanah yang baik” tidak akan putus asa dan gentar menghadapi pencobaan, menghadapi apapun juga didalam hidup ini. Mereka selalu tekun dan tetap mengikuti langkah Tuhan Yesus. Baik itu gembira, sedih, kelimpahan, kekurangan, aniaya, penghiburan dan kematian ketekunan itu tercermin dalam setiap hidupnya. Seringkali orang kristen gagal menghasilkan buah dan menermia janji Allah sebab mereka mudah putus asa, mudah kecewa dan tidak sabar menanti janjiNya. Firman Tuhan dalam Ibrani 10:36 mengatakan, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” Tidak malah sebaliknya setelah kita mentaati Firman Tuhan yang kita dengar kita menjadi tukang tagih janji seakan akan ketaatan kita mahal harganya. Pantaskah kita seperti itu? Apakah Tuhan lalai menepati janjiNya (II Petrus 3:9)? Lihat Ayub, walau dalam pencobaan ia tetap tekun mencari Allah dan Allah tidak meninggalkanNya (Yakobus 5:11). Pernyataan yang luar biasa dari Ayub dalam Ayub 23:10-12, menjadi teladan ketekunan kita mengiring Yesus, dalam kondisi apapun juga. Bertekunlah!

TEKUN adalah kata yang penting dalam mengiring Yesus. Jangan abaikan itu! Terlebih pada masa-masa akhir ini, Firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:1 mengatakan bahwa pada akhir zaman akan datang masa-masa yang sukar, pencobaan akan semakin berat dan Gereja Tuhan akan masuk pada penghakiman, penampian (1 Petrus 4:17), semua telah dinubuatkan, dan Wahyu 14:12 mengingatkan mereka yang hidup di akhir masa ini, “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus”

Sebagai akhir, ingatlah selalu saat perjalanan kita mengiring Tuhan, saat kita membangun rumah iman ini, semua itu memerlukan KETEKUNAN. Tidak otomatis, tidak instan dan tidak sama dengan waktu yang kita harapkan, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan Ia tidak lalai menepati janjiNya. Tetap taat Firman Tuhan apapun juga tantangannya!

Murtad

Kata murtad kadang-kadang disebut untuk menunjuk orang yang meninggalkan agama atau partai politik.
Dalam Alkitab kita juga dapat bertemu dengan kata ini yang diterjemahkan dari paraptoma dan apostasia. Paraptoma dari akar kata pipto yang berarti:
1. salah langkah (a false step)
2. blunder (menabrak atau melakukan kesalahan besar)
3. jatuh dari (to fall down from)
4. meninggalkan kepercayaan (fall away)
5. a lapse from uprightness (searti dengan kata dosa dalam bahasa Yunani yaitu hamartia yang artinya luncas, menyimpang dan tidak kena sasaran)
Kata paraptoma inilah yang digunakan Paulus dalam Ibrani 6:6 - yang murtad lagi. Paraptoma juga digunakan oleh Paulus dalam Roma 11:11-12, kejatuhan orang Yahudi yang menolak Yesus sebagai Juruselamat adalah kemurtadan, maksudnya bahwa mereka menyimpang dari jalan yang benar. Sinonim paraptoma ini dalam bahasa Yunani adalah apostasia, kata ini juga menunjuk kepada kemurtadan. Apostasia bisa berarti :
1. a defection, departing (meninggalkan)
2. revolt (memberontak)
3. apostasy, renegade (kemurtadan)
4. fall away (lari dari, jatuh)
Kata apostasia biasanya menunjuk kepada tindakan atau langkah meninggalkan sesuatu yang menjadi tugasnya (bidang ketentaraan) dan berdiri sebagai pihak pemberontak. Kata ini digunakan dalam Kis 21:21 dan 2Tes 2:3. Dua kata yang menyiratkan jelas mengenai kemurtadan ini tidak memiliki diferensiasi yang jelas. Dua kata ini menununjuk kepada kemurtadan, orang yang sudah beriman lalu meninggalkan imannya.
Realitas Kemurtadan
Kemurtadan adalah suatu realitas hidup. Hal ini tidak dapat dipungkiri. Alkitab dengan jelas mengatakan demikian. Ibrani 6:6 memberi indikasi jelas mengenai kenyataan hidup Kristiani ini. Dalam terjemahan Good News dikatakan: And then they abandoned their faith! It is impossible to bring them back to repent again. Kata murtad di sini (Ing. abandoned their faith. Terjemahan NKJV: if they fall away) adalah paramesontes (pipto, para pipto). Orang yang murtad adalah orang yang tidak akan bertobat lagi. Keadaan ini sejajar dengan “menghujat Roh Kudus”. Jadi selama seseorang masih bisa bertobat maka ia belum dikategorikan murtad. Dalam hal ini hanya Tuhan yang tahu apakah seseorang sudah sampai tingkat murtad atau belum.
Dalam Ibrani 3:12-15, dijelaskan bahwa kemurtadan bisa terjadi atas orang yang sudah beriman kepada Kristus. Kata murtad dalam teks ini: apostenai (Ing. departing, falling away). Dikatakan dalam teks aslinya: en to apostenai apo theou zontes (Ing. in departing from living God). Dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan: murtad dari Allah yang hidup. Jelas sekali bahwa orang yang melarikan diri atau menjauhkan diri dari Allah yang hidup adalah orang yang pernah “dekat” dengan Tuhan. Matius 24:10 menginformasikan bahwa akan terjadi kemurtadan (teks dalam bahasa Indonesia). Kata murtad di sini sebenarnya adalah “skandalisthesontai” yang lebih tepat diterjemahkan sebagai “melakukan pelanggaran terhadap hukum” (ing. be offended). Keadaan inilah yang dinubuatkan oleh Paulus dalam 2 Tesalonika 2:3, yaitu tentang hari kemurtadan. Dalam 1Timotius 4:1-3 dijelaskan bahwa di akhir zaman akan terjadi kemurtadan orang percaya (Yun. apostesontai Ing. will depart from). Mereka disesatkan oleh roh-roh penyesat, ajaran setan, oleh tipu daya pendusta-pendusta.
Harus diakui bahwa 12 murid Tuhan yang terkemuka adalah orang-orang khusus yang telah menerima kuasa untuk pergi memberitakan kerajaan sorga. Tidak dikatakan bahwa ada yang tidak menerima kuasa. Mereka adalah orang-orang yang telah mengalami kuasa Tuhan dan mendengar banyak kebenaran, tetapi ada diatara mereka yang telah meninggalkan iman mereka dan terhilang. Inilah kemurtadan itu (paraptoma, apostasia). Dalam Ibrani 10:26 diperingatkan bahwa orang yang meninggalkan jalan kebenaran, “dengan sengaja” berbuat dosa, adalah orang-orang yang yang tidak lagi berkesempatan memperoleh pengampunan dosa.
Jadi adalah berbahaya kalau kita mengatakan bahwa seorang anak Tuhan tidak mungkin murtad. Kepercayaan bahwa anak Tuhan tidak mungkin murtad akan men-cenderungan anak Tuhan tidak mengerti tanggung jawabnya yang berat sebagai anak Tuhan. Panggilan untuk tetap didalam keselamatan adalah panggilan yang tidak kalah hebatnya dengan panggilan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.
Kemurtadan ini dapat disejajarkan dengan pengertian “menyia-nyiakan keselamatan” (Ibr 12:3). Dalam Ibrani 12:1-4 orang yang mendengar Injil dan telah menerimanya diancam bahaya besar bila tidak hidup di dalam kebenaran Injil yang diberikan Tuhan itu. Menjadi penyakit dan kelemahan banyak orang Kristen, setelah menjadi orang percaya tidak bersungguh-sungguh dalam hidup kekristenannya. Sikap ini disebut dalam Ibrani 2:3: sebagai “menyia-nyiakan keselamatan”. Menyia-nyiakan dari teks aslinya amelesantes, akar kata ameleo yang dapat diterjemahkan sebagai: neglecting, made light of, to be careless of, not to care (menganggap ringan, meremehkan, tidak menganggap berarti). Hampir orang percaya tidak mau mengakui kelemahan ini, pada hal hidup rohaninya terjangkit penyakit ini. Hal ini disejajarkan dengan bangsa Israel yang telah menerima firman Tuhan yaitu hukum-hukumnya, bila menolak atau melanggar hukum itu akan menerima balasan yang setimpal. Dalam perikop ini diingatkan bahwa sekalipun bangsa Israel adalah umat pilihan Allah ketidaktaatan mereka akan mendatangkan bencana bagi mereka sendiri. Demikian pula dengan orang percaya yang tidak hidup di dalam iman percayanya.
Dalam 1Petrus 2:1-12 ditegaskan bahwa kalau Tuhan tidak sayang terhadap malaekat yang jatuh dan membuang mereka, demikian pula terhadap orang yang menyimpang dari iman.
Dalam Yohanes 15:1-7 dipaparkan bahwa sangat mungkin bagi carang yang tidak berbuah akan dikerat-Nya. Ini berarti menunjuk kepada kehidupan anak-anak Tuhan yang telah memiliki hubungan dengan Tuhan tetapi oleh karena menyia-nyiakan anugerah Allah dengan bukti tidak berbuah, maka ia akan dibuang. Dalam kaitannya dengan hal ini Paulus mengingatkan jemaat di Roma untuk memperhatikan bukan saja kemurahan Allah, tetapi juga kekerasan-Nya (Rom 11:19-22). Kalau bangsa Israel, cabang yang asli bisa dipatahkan, maka kita, cabang liar bisa dipatahkan pula, kalau tidak tetap tinggal dalam kemurahan-Nya.
Keguguran Diakhir Zaman
Harus sungguh-sungguh diwaspadi bahwa kemurtadan adalah bahaya gereja yang ber-kesinambungan sepanjang abad. Dalam banyak bagian Alkitab dikemukakan agar kita bergumul terus untuk berpegang teguh atas apa yang kita yakini dan terus bertumbuh dalam iman (wahyu 2:25; 3:11). Bila tidak ada realitas kemurtadan, niscaya Tuhan Yesus tidak perlu sedemikian tegas mengingatkan orang percaya untuk berjaga-jaga dan berpegang teguh atas apa yang sudah dipercayai. Lebih tajam lagi dikatakan dalam Wahyu 3:5 bahwa ada kemungkinan nama seseorang yang telah tertulis dalam kitab kehidupan dihapus.
Suatu realitas yang harus dimengerti dan diterima, bahwa iblis bisa menuntut untuk mencobai anak-anak Tuhan dengan maksud agar anak Tuhan tersebut gugur imannya (Luk 22:31). Dalam terjemahan Good News dikatakan Satan has receive permission to test all of you. Allah mengizinkan iblis “menampi” anak-anak-Nya. Hal ini juga dialami oleh Ayub. Iblis mendapat izin oleh Tuhan untuk mencobainya (Ayub 1:12). Pencobaan yang dialami Ayub dimaksudkan oleh setan agar Ayub menghujat Allahnya (Ayub 2:9). Dalam kenyataannya Ayub tidak menghujat Allah seperti saran istrinya, sebaliknya Ayub tetap memuji Tuhan dan memuliakan-Nya. Demikian pula Iblis menampi para murid Tuhan, agar Simon dan kawan-kawan mengkhianati dan menyangkal Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus menyinggung mengenai realitas keguguran (Ing. fail. Yun.ekleipe). Hal ini berarti bahwa kemurtadan yang sejajar artinya dengan keguguran adalah suatu realitas yang dapat dialami anak Tuhan. Gugur maksudnya jatuh sebelum waktunya (masak), kata ini bisa berarti tidak mencapai tujuan. Kalau kata ini dikenakan untuk prajurit yang mati di medan perang memiliki konotasi positif, tetapi kalau dikenakan untuk hal lain bisa berarti negatif. Juga dalam hubungannya dengan pengiringan kepada Tuhan Yesus.
Jangan kita beranggapan bahwa orang Kristen yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus tidak mungkin gugur. Kita hendaknya tidak menyederhanakan kebenaran Alkitab sehingga banyak orang salah mengerti. Dapat kita temukan banyak data dalam Alkitab mengenai kenyataan ini. Dalam 1Korintus 10:1-12 digambarkan bangsa Israel sebagai contoh (Ay.11-12). Sebagian besar mereka tidak sampai ke tanah Kanaan. Apakah ini berarti ketidak konsistensiannya Tuhan dan ketidak berdayaan-Nya? Tentu tidak. Kega-galan sebagian besar bangsa itu mencapai Kanaan, karena mereka tidak setia sampai akhir. Mereka tidak taat kepada Tuhan. Mereka tidak bersungguh-sungguh dalam pengiringan yang benar.
Dalam Wahyu 3:5 Tuhan Yesus menyinggung mengenai penghapusan nama. Dalam teks asli Alkitab ada 3 kata yang dapat diterjemahkan menghapus yaitu apomasso, (membuat bersih, biasanya untuk debu, Luk 10:11); ekmasso, bisa diterjemahkan membuat kering/menghapus air mata, wipe dry; exaleipso, to wipe out, wipe away. Kata yang ketiga ini lebih kuat dan dekat berarti menghapuskan sama sekali (Ing. to blot out). Kata yang terakhir inilah yang digunakan Tuhan Yesus dalam Wahyu 3:5. Dari pernyataan Tuhan Yesus tersebut jelas bahwa ada ke-mungkinan nama seseorang dihapus dari kitab kehidupan (ou me exaleipso to onoma autou ek tes biblou tes zoes; I will not blot out his name out of the scroll of life/book of living). Berkali-kali Tuhan Yesus menyerukan agar kita berjaga-jaga dan berdoa (Mat 26:41; 1Pet 5:8). Peringatan sadarlah dan berjaga-jaga ini memberi indikasi bahwa ada orang-orang percaya yang tidak sadar dan tidak berjaga-jaga. Dengan demikian jelaslah bahwa dunia ini bukan panggung sandiwara yang semua kejadian telah diatur oleh sebuah sekenario dan sutradara yang menentukan awal dan akhir cerita. Dunia adalah panggung per-gumulan apakah seseorang tetap didalam iman atau tidak.
Tidak asing bagi kita kebenaran bahwa di akhir zaman ini akan terjadi keguguran yang besar. Dalam Matius 24:12 dinyatakan oleh Tuhan Yesus bahwa kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Lebih banyak yang dingin dari pada yang panas. Apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini singkron dengan apa yang dikatakn oleh Daniel dan Paulus (Dan 12:10; 2 Tim 3:1- 5).
Sangatlah berbahaya bagi anak Tuhan yang tidak mengerti kebenaran ini atau yang tidak mau menerima kebenaran ini, bahwa kejatuhan adalah suatu realitas dan bahwa dunia akhir jaman ini sangat rawan bagi iman Kristen. Kalau kita tidak berdiri teguh dan berjaga-jaga kita akan jatuh terseret dalam dosa dunia, akhirnya gugur. Tetapi kalau kita berjaga-dan berdoa, sadar akan kenyataan tentang keguguran dan dunia akhir jaman yang jahat ini, maka kita tidak akan gugur. Kalau kita memahami bahwa dunia akhir zaman sangat rawan maka akan mendorong lebih bersungguh-sungguh dalam memperlengkapi diri dengan perlengkapan senjata Allah. Agar tampil sebagai pemenang.
Panggilan ini senada dengan apa yang diucapkan rasul Paulus dalam Galatia 5:1, jangan mau dikenakan kuk perhambaan lagi. Jangan terkecoh dengan ajaran yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak akan dapat murtad lagi. Ajaran semacam ini akan memperlemah gairah pengiringan kita yang murni kepada Tuhan. Kurang bersungguh-sungguh dalam meningkatkan mutu kehidupan rohani kita (Fil 2:12).
Waspadalah (Ibr 3:12), kata ini merupakan kata peringatan sekaligus ancaman (bnd: Ucapan Tuhan di Firdaus, Kej 2:16; 2 Kor 11:1- 3). Peringatan ini tidak membuat kita menjadi orang Kristen yang dikejar-kejar ketakutan tetapi peringatan yang membuat kita waspada. Sebaliknya anggapan yang mengatakan bahwa kita tidak akan bisa murtad lagi akan menciptakan orang Kristen yang kurang mempraktekkan kebenaran Allah. Biasanya lebih banyak mendiskusikan Alkitab dan mempercakapkannya ketimbang mem-praktekkannya dalam hidup.

Permohonan doa dan kedaulatan Allah


Tulisan ini tidak bermaksud menjawab secara sempurna dan penuh segala pokok yang berkaitan dengan doa, tetapi melalui ceramah ini kita mencoba melihat sisi-sisi dari kehidupan doa yang seringkali lolos dari pengamatan banyak orang Kristen. Apa yang disajikan di sini dipandang penyusun sebagai ???hal yang penting??? dalam kehidupan doa seorang anak Tuhan yang ???normal???.
HAKIKAT DOA
Hakikat doa Kristen ialah suatu percakapan (dialog) antara kita dengan Allah yang benar, oleh sebab itu :
1. Berdoa adalah sarana manusia berhubungan dengan Allah.
2. Berdoa tidak sekedar mengucapkan kata-kata, bukan mengucapkan kata-kata yang kita anggap sebagai berkhasiat, sakti atau bertuah seperti mantera.
3. Berdoa adalah juga mendengarkan Allah berbicara kepada kita.
4. Berdoa tidak sekedar menyampaikan permohonan kepada Tuhan (permintaan hanya salah satu dari isi doa). Pada umumnya orang memandang doa itu identik dengan permohonan atau permintaan. Perlu dipertegas bahwa di dalam doa harus ada perjumpaan dua pribadi, yaitu pribadi Allah dan pribadi kita. Dalam perjumpaan tersebut terjadi dialog kongkrit. Percakapan dua arah, bukan satu arah.
PRINSIP PENGABULAN DOA (MAT 7:7-11)
1.Kesalahan Umum
Matius pasal 7:7-11 ini cukup terkenal dari banyak ayat terkenal lain dalam Alkitab, sebab dalam perikop ini terdapat ayat yang membicarakan mengenai pengabulan doa (khususnya yang terdapat dalam Mat 7 : 7-8), ayat inilah yang telah dijadikan banyak orang Kristen bagai semacam kunci untuk membuka pintu gudang kekayaan Tuhan dimana orang dapat mengambil apa saja yang diinginkan-nya).
Sering kali tanpa disadari konsep Alibaba dan Gudang harta karun menjadi dasar pengabulan doa. Itulah sebabnya ayat ini menjadi ayat favorit banyak orang. Satu hal yang harus diperhatikan bahwa banyak orang telah berbuat kesalahan besar yaitu melepaskan atau memisahkan ayat 7-8 dari konteksnya (ayat-ayat sesudahnya, yaitu ayat-ayat yang menyempurnakan dan melengkapi ay 7-8 seringkali diabaikan). Padahal ayat 7-8 tidak dapat dipisahkan dengan ayat 9-11. Perikop ini merupakan kesatuan pengajaran yang tidak dapat dipisahkan (Matius 7:7-11). Apabila kita mencoba memisahkan ayat 7-8 dari konteksnya (hubungan ayat sebelum dan sesudahnya), maka kita akan kehilangan pengertian yang benar dari ayat-ayat tersebut dan tidak mengerti hal doa itu. Karena kesalahan pengertian inilah maka banyak orang Kristen yang tidak mengerti mengapa doanya tidak dikabulkan Tuhan, lalu bersungut-sungut dan mempersalahkan Tuhan.
2.Sikap Allah Terhadap Permintaan
Dalam perikop ini ditunjukkan sikap-sikap Allah terhadap doa-doa kita sekaligus diajarkan kepada kita mengapa banyak doa yang tidak dijawab. Ada 3 kebenaran rohani yang indah terdapat di dalamnya :
a. Allah adalah pribadi yang pasti meresponi doa kita (ay.7-8).
Maksud meresponi di sini adalah menanggapi dengan serius terhadap setiap pergumulan kita yang kita bawa kepada Tuhan. Ay 7-8 ini menunjukkan bahwa Allah pasti meresponi doa-doa kita. Ia pasti menjawab. Perhatikan ! Tuhan tidak pernah tidak bereaksi terhadap permohonan anak-anak-Nya. Harus dimengerti meresponi di sini bukan berarti mengabulkan. Tidak semua doa itu dikabulkan Allah tetapi tidak ada doa yang tidak dijawab Allah.
Mintalah, maka akan diberikan. Tidak dikatakan dikabulkan. Terjemahan aslinya : dothesetai - it shall be given; bukan genesetai - dikabulkan. Apa yang diberikan belum tentu apa yang kita minta, tetapi pasti ada yang diberikan (yang diberikan tersebut adalah sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan kita dan kehendak-Nya). Kita harus dapat membedakan antara dikabulkan dan diberikan atau dijawab. Sering kali ayat 7-8 dijadikan sebagai jaminan atau patokan bahwa Tuhan pasti mengabulkan semua doa kita. Ini keliru.
Carilah maka....: Ada pergumulan untuk menemukan. Seolah-olah ada sesuatu yang hilang atau belum ditemukan. Yang dicari di sini dan yang belum ditemukan di sini bukan permintaan kita, tetapi kehendak-Nya. Di dalam menyampaikan permohonan kita dipanggil untuk mencari kehendak-Nya terlebih dahulu (apakah permintaan kita tersebut sesuai dengan kehendakNya atau tidak). Allah tidak pernah meluluskan atau mengabulkan permintaan seseorang yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.
Dalam Yohanes 15:7 - Tuhan Yesus berkata tinggal di dalam Dia dulu, mengerti kehendak-Nya; apakah yang kita minta sesuai dengan kehendak-Nya, Bila permintaan kita sesuai dengan kehendak-Nya maka permintaan kita akan dikabulkan Allah. Allah tidak akan mengabulkan doa kita bila permintaan kita bertentangan dengan rencana-Nya. Tinggal di dalam Dia, agar kita mengerti rencana-Nya. Samuel mendoakan Saul (I Sam 15), tetapi Tuhan tidak mau menjawab sebab doanya sangat bertentangan dengan kehendak Allah dan tidak dapat ditolerir sama sekali. Demikian pula Yeremia dilarang oleh Tuhan untuk mendoakan bangsanya, sebab pada waktu itu Tuhan sudah menetapkan akan menghukum Yehuda melalui bangsa Babel. Dalam hal ini kita harus dapat membedakan antara berpikir positif (positif thinking) dan iman yang dari hati Allah. Berpikir positif bisa lahir dari sanubari manusia itu sendiri tetapi iman lahir dari hati Allah. Oleh sebab itu jangan mengimani apa yang bukan bagian kita, apa yang tidak disediakan Allah bagi kita.
Ketoklah pintu: Bila kita hendak meminta, harus melalui pintu. Bukan melalui jendela. Pintu itu adalah Tuhan Yesus. Ia sendiri berkata : Akulah pintu (Yoh 10:9). Tuhan menghendaki permintaan kita harus didasarkan dalam nama Tuhan Yesus (Yoh 14:13). Permintaan yang didengar dan dijawab Allah adalah permintaan dalam nama Tuhan Yesus, melalui Tuhan Yesus.
Maksudnya berdoa dalam nama Tuhan Yesus adalah : Bahwa keberanian kita menghampiri Allah yang Maha Kudus dan menyampaikan permohonan adalah oleh karena kasih karunia Allah dalam Tuhan Yesus. Hubungan kita telah dipulihkan oleh jembatan pengorbanan-Nya. Dengan ini kita yakin bahwa Allah mau menerima kita dan mendengar seruan kita. Sebab hanya ada satu saluran agar seseorang memperoleh segala yang baik dari Allah dan berkat-berkat-Nya, yaitu melalui Tuhan Yesus. Doa yang didengar Allah adalah doa yang dinaikkan oleh orang-orang yang mempunyai hubungan lekat dengan Tuhan Yesus sebagai saluran berkat Allah, sekaligus sebagai Juru Syafaat kita di hadapan Allah. Juru Syafaat kita hanya satu, yaitu Tuhan Yesus.
b. Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan kita (Matius 7:9-10)
Ini berarti Allah pasti memberikan apa yang kita minta asal permintaan itu sungguh-sungguh merupakan kebutuhan kita yang vital. Bicara mengenai roti dan ikan itu berbicara mengenai kehidupan pokok, kebutuhan vital. Mengapa Allah kadang tidak mengabulkan permintaan kita ? Sebab apa yang kita minta itu bukan kebutuhan vital kita. Biasanya permintaan yang bukan kebutuhan adalah hal-hal yang hanya untuk memuaskan hawa nafsu semata (Yak 4:3). Cobalah koreksi apa-apa saja yang pernah kita minta dari Tuhan atau sedang kita ajukan kepada Tuhan. Koreksi dengan jujur apakah sungguh itu kebutuhanmu atau sekedar hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Seharusnya segala yang kita minta harus bertendensi ke arah kemuliaan bagi namaNya. Orang yang mempunyai dasar hati semacam ini tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Hidupnya dalam penyerahan sepenuh.
c. Allah pasti memberikan yang baik bagi anak-anaknya (ay.11)
Ada orang Kristen yang ngomel sebab permintaannya kepada Tuhan tidak dikabulkan. Ia pikir Tuhan itu tidak peduli, masa bodoh terhadap masalahnya. Padahal Tuhan tidak mengabulkan doanya, karena permintaan orang tersebut membahayakan hidupnya. Tidak baik untuk dirinya. Kalau ada anak yang minta pisau dapur, orang tuanya pasti tidak memberikan sebab membahayakan. Sering kali apa yang kita pikir baik itu belum tentu baik. Konsep baik kita belum tentu baik benar dalam ukuran yang benar. Tetapi apa yang dianggap Allah baik pasti baik bagi kita. Banyak doa yang tidak dikabulkan oleh Allah sebab kalau dikabulkan membahayakan orang itu. Allah tidak mengabulkan doa yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Dan kehendak Allah tentu yang terbaik untuk kita.
ALLAH YANG BERDAULAT DAN BEBAS (Yesaya 40:13-19)
Melengkapi pembahasan mengenai doa maka perlulah kita belajar sekilas mengenai hakekat Allah, yang dalam hal ini harus dipahami oleh anak-anak Tuhan. Dengan kebenaran ini anak-anak Tuhan dapat membina terus menerus persekutuan dengan Allah dan bagaimana sepatutnya kita hidup bergaul dengan Allah dan bersikap terhadap-Nya. Tanpa disadari banyak orang yang terbawa kepada pengajaran tentang Allah yang tidak sehat yaitu penggambaran hakekat Allah yang keliru. Kekeliruan ini pada umumnya berasal dari pengajar-pengajar atau pengkhotbah-peng-khotbah Kristen yang tidak belajar dengan benar mengenai hakekat Allah. Hal ini terjadi khususnya atas pembicara-pembicara yang berasal dari agama lain sebelum menjadi Kristen dan pembicara-pembicara yang walaupun berasal dari orang Kristen tetapi tidak pernah belajar secara khusus dan sungguh-sungguh kebenaran Allah dalam Alkitab. Kekeliruan ini mempunyai dampak yang sangat negatif bagi banyak orang percaya.
Oleh mereka ini Tuhan digambarkan sebagai Allah yang mirip ilah-ilah agama- agama suku. Ini adalah konsep Allah yang tidak benar, tidak Alkitabiah. Oleh sebab itu cara mereka memperlakukan Allah sama seperti umat agama-agama non-Kristen memperlakukan ilah mereka. Tuhan acapkali digambarkan sebagai Allah yang dapat diatur dan dipengaruhi oleh kita. Pengaturan terhadap Allah dan cara-cara mempengaruhi Tuhan itu dengan berbagai cara. Dalam konteks kita orang kristen melalui beberapa sarana antara lain :
1. Liturgi atau upacara kebaktian.
2. Persembahan uang dan perpuluhan kita.
3. Melalui cara doa tertentu.
Satu hal penting yang harus kita mengerti dan terima bahwa Allah adalah yang berdaulat dan bebas. Ia bertindak dan bekerja sesuai dengan hakekatnya. Ia tidak pernah menyangkali hakekatnya itu.
Perhatikan ayat-ayat tersebut ini tersebut ini:
1. Yesaya 40:13-14 . Allah bukanlah Allah yang dapat diatur oleh siapapun dan dengan cara bagaimanapun.Tidak ada satu kuasapun dapat menekan Allah dan mengaturNya .Yesaya 40:25-26 menunjukkan bahwa Ia adalah Maha Kuat.
2. Allah adalah Allah yang Maha besar dan tidak dapat dipengaruhi oleh manusia (Yesaya 40:15-19). Ia bekerja sesuai dengan hakekat-Nya.Dan Ia tidak pernah menyang kali hakekatNya. Allah adalah Allah tidak berubah (Maleakhi 3:6). Oleh sebab itu langkah yang bijaksana yang kita lakukan adalah mempelajari dan mengenal Allah kita sehingga kita mengerti apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita. Allah adalah Allah yang bebas, Ia bebas dengan apa yang Ia rencanakan dan lakukan (bnd: Nahum 1:2-3 ; 7-8). Allah melawan musuh-musuh-Nya: (Siapa musuh Allah? hal ini harus kita tahu supaya kita jangan menjadi musuh Allah). Musuh Allah adalah :
1.Orang yang menjadi seteru salib. Menolak bertobat (Fil 3:18-19)
2.Orang yang congkak atau sombong (Yak 4: 6).Mengandalkan kekuatan sendiri dan mengandalkan kekuatan manusia.
3.Orang yang mengasihi dunia ini lebih dari mengasihi Tuhan (Yak 4:4 - persahabatan dengan dunia adalah permusuhan terhadap Allah).
Bila seseorang melakukan hal-hal ini, sekalipun ia memberi persembahan dan berbakti di gereja, memberi persembahan dan perpuluhan ia menjadikan dirinya musuh Allah. Hal-hal inilah yang merusak komunikasi dan dialog kita dengan Tuhan. hal inilah yang merusak doa kita. Tetapi berbahagialah orang yang menjadi sahabat Tuhan, kekasih Tuhan. Oleh sebab itu perhatikan beberapa hal sebagai jalan untuk membenahi hubungan kita dengan Tuhan agar kita memiliki komunikasi dengan Allah atau doa.
1. Membereskan dosa dengan Tuhan.
2. Hidup dalam pengandalan akan Allah yang hidup.
3.Mengasihi Tuhan yang ditunjukkan dengan melayani Tuhan. Orang seperti ini disebutkan Nahum sebagai mengungsi kepada Tuhan. Allah baik bagi mereka (Nahum 1: 7-8 Pada prinsipnya Ia adalah Allah yang penuh kasih, Hakekat Allah adalah Allah yang kasih adanya. Tidak perlu diragukan kasih dan pemeliharaan Allah bnd : Yesaya 40:27-31 ). Kerinduan hati Tuhan kalau kita dapat senantiasa bersekutu dengan Tuhan. Hidup dalam doa. Doa yang tidak berkeputusan.

U are special


Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,-, ia bertanya kepada hadiri, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi. "Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,-." Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apa pun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial.

Darah..!!!


Membicarakan darah, merupakan hal yang sangat pokok dalam Alkitab. Karena demikian pentingnya pokok ini, sehingga Alkitab mencatatnya sebanyak 312, belum segala sesuatu yang berhubungan dengan darah.
Mengapa darah menjadi begitu penting dalam Alkitab? Tentu kita semua tahu, bahwa tanpa darah, tidak ada kehidupan dari segala yang hidup, baik manusia maupun binatang. Perjanjian Lama sudah jauh-jauh menyinggung tentang darah, baik yang tersurat maupun yang tersirat (Kej. 3:21). Penumpahan darah pertama dilakukan oleh Kain terhadap Habel. Darah Habel terus berteriak di hadapan Allah, sehingga Allah harus menuntut hukuman terhadap Kain. Allah menuntut setiap pertumpahan darah, terutama darah orang tidak bersalah.
Sebuah buku yang sangat bagus karangan M.R. DeHaan M.D. telah banyak mengungkap rahasia tentang “Kimiawi Darah” terutama dalam diri Yesus. Mengapa Yesus harus mencurahkan darahNya di Kalvari? Mengapa harus darah yang harus dikucurkan untuk keselamatan manusia? Bagaimana hubungan nyawa dengan darah? Mengapa hanya darah Yesus yang dapat menghapus dosa? Hal yang lebih menarik lagi dalam hubungannya dengan “kelahiran suci” Yesus.

Fisiologi Tentang Darah

Bukanlah kebetulan atau asal-asalan Tuhan memprogram tubuh manusia dengan struktur yang rumit dan mengagumkan. Secara sempurna, Ia menciptakan manusia dengan berbagai macam jaringan dalam tubuh. Ada otot, syaraf, lemak, kelenjar, tulang, jaringan penghubung, dsb. Masing-masing bagian tersebut terdiri atas sel-sel, berukuran sangat kecil dan memiliki fungsi yang khusus dan terbatas.
Namun Tuhan menciptakan darah, yang merupakan bagian yang sangat unik dan sangat lain bila dibanding dengan jaringan-jaringan di atas. Darah itu berupa cairan yang bergerak, sehingga tidak terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi bebas bergerak ke seluruh bagian tubuh dan ia menyediakan sel-sel yang terdiri dari zat makanan dan sekaligus membawa sisa-sisa sampah yang dihasilkan oleh aktivitas sel. Inilah yang disebut dengan proses metabolisme.
Dalam tubuh manusia normal, cairan darah kurang lebih lima liter, dan darah tersebut dipompa oleh jantung dan beredar melalui sistem kurang lebih setiap 23 detik. Jadi setiap sel yang ada dalam tubuh disuplai terus-menerus dan dibersihkan, dan pada saat yang sama pula terjadi hubungan konstan dengan setiap sel lainnya yang ada di dalam tubuh.
Uraian di atas memiliki kandungan kebenaran spiritual yang lebih besar dan dalam, yakni rahasia tubuh Kristus. Jemaat Kristus disebut sebagai tubuh Kristus. Kita adalah bagian tubuhNya dan masing-masing anggota memiliki hubungan satu dengan lainnya. Di dalam tubuh ini, Yesus Kristus sebagai Kepala dan semua orang percaya sebagai anggotanya. Anggota-anggota ini dihubungkan dengan darahNya. Nyawa masing-masing anggota bergantung oleh darahNya. Demikian juga untuk tetap hidup, suplai makanan, kekudusan dan pertumbunhan, sangat bergantung semata-mata pada darah Anak Domba Allah, karena nyawa ada di dalam darah.
Darah Adam

Satu perkara yang menghubungkan semua manusia dengan setiap manusia lainnya adalah darah yang mengalir dalam tubuhnya. Semua manusia berasal dari satu darah dan darah itu adalah darah Adam, manusia pertama dan nenek moyang semua suku bangsa manusia. Adam, darahnya telah tercemar oleh dosa, mati karena pelanggaran- pelanggaran. Alkitab mengatakan: “Dari satu orang saja Ia (Allah) telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi”. (Kis. 17:26). Semua manusia memiliki kesamaan dengan diri Adam dan memiliki hubungan darah dengan Adam, baik orang Yahudi, Yunani, Negro, Jawa, Sunda, dsb.
Darah mereka membawa hukuman kematian karena dosa Adam, dan karena alasan inilah semua manusia mengalami kematian, tanpa terkecuali. Ingatlah, nyawa itu ada di dalam darah, dan jika manusia mati berarti darahnya sudah mati.
Meskipun kita tidak tahu sifat atau keberadaan buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat, kita tahu bahwa dengan memakannya kita mengalami “pencemaran darah” dan hal ini membawa kepada kematian. Buah yang baik dan yang jahat telah menjadi racun mematikan. Karena demikian hebatnya racun tersebut, walau sudah 6000 tahun, keturunan Adam masih membawa racun dosa melalui darahnya.
Adam tidak lain hanyalah seonggok debu tanah. Lalu ditiupkan “kehidupan” oleh Allah, dan kehidupan itu adalah darah. Hal ini tidak dapat disangkal lagi, karena memang jelas bahwa nyawa segala makhluk ada di dalam darah. Dan jika segumpal tanah tersebut diberikan darah oleh Allah, maka manusia itu akan menjadi mahluk hidup. Darahnya merupakan pemberian yang terpisah yang berasal dari Allah, karena Allah adalah Hidup.
Karena dosa maka Adam mengalami kematian rohani, dan akhirnya mati secara jasmani. Karena nyawa ada di dalam darah, dan ketika manusia itu mati, sesuatu terjadi pada darahnya. Dosa mencemari darah manusia, bukan tubuhnya, kecuali secara tidak langsung, karena tubuh disuplai oleh darah. Karena alasan inilah tubuh disebut tubuh yang berdosa karena ia terus-menerus diberi makan oleh darah yang telah dicemari dosa. Dan karena Allah telah menjadikan semua bangsa dari orang saja, maka dosa itu turun kepada semua keturunan Adam. Sebab itu karena satu orang berdosa, semua orang menjadi berdosa.

Kelahiran Suci

Dosa benar-benar telah mencemari darah manusia dan sudah seharusnya juga mencemari Kristus yang dilahirkan dari seorang anak dara, karena itu Kristus juga disebut keturunan Adam, namun Dia seorang yang tidak berdosa. Karena hal inilah Kristus mengambil bagian tubuh Adam, yang sifatnya tidak berdosa, tetapi Ia tidak mengambil bagian dari darah Adam, yang sesungguhnya telah tercemari dosa. Allah telah mempersiapkan suatu jalan, sehingga Yesus yang dilahirkan dari seorang perempuan (bukan pria) dapat menjadi manusia yang sempurna, namun Ia tidak mengandung darah Adam di dalam urat nadiNya. Dia tidak mengandung dosa Adam. Adapun kelahiran Yesus yang suci itu ditulis sbb:
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. (Mat. 1:18-20).
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh Nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita”. (Mat. 1:22-23).
Inilah kisah satu-satunya di dunia, di mana seorang lahir tanpa dibuahi oleh laki-laki. Kebenaran ini harus dipegang dan tidak bisa disangkal atau membuangnya dan menganggap hanya sebuah dongeng. Dengan jelas bahwa Yesus dikandung dalam rahim seorang anak dara Yahudi dari Roh Kudus. Ia benar-benar terpisah dari keturunan nenek moyang manusia.
Hal ini berkaitan dengan pernyataan Alkitab bahwa Ia memang tidak berdosa. Sebab ia tidak mewarisi sifat keberdosaan Adam yang mendatangkan kutuk dan kematian. Namun berbeda dengan Yesus, Ia tidak berdosa dan Ia tidak dapat mati, sampai Ia sendiri yang memikul dosa dan mati bagi manusia. Dialah manusia yang sempurna, sebab darahNya tidak tercemar oleh dosa.
Menurut teori kedokteran diketahui bahwa darah yang mengalir di dalam arteri seorang bayi yang masih ada di dalam kandungan tidak berasal dari si ibu, tetapi dihasilkan dari tubuh fetus. Namun hal ini terjadi setelah sel sperma membuahi sel telur dan fetus mulai terbentuk, lalu munculah darah.
Para ahli berpendapat, tidak ada gunanya setetes darah diberikan untuk mengembangkan embrio di dalam rahim seorang ibu. Ibu menyediakan bagi fetus (janin bayi yang belum lahir), zat-zat makanan untuk pertumbuhan tubuh fetus itu ada di dalam rahimnya, tetapi darah yang di dalam tubuh fetus itu dihasilkan oleh embrio itu sendiri. Dari masa pembuahan sampai lahirnya bayi, tidak setetes darahpun dialirkan dari si ibu kepada bayinya.
Plasenta, suatu jaringan yang lebih dikenal dengan nama ‘Uri/Lembuni’ yang membentuk selang antara si ibu dengan bayinya. Plasenta terbentuk dengan begitu sempurna sehingga walaupun semua zat makanan yang dapat larut seperti protein, lemak, karbohidrat, garam, mineral, dan juga antibodi mengalir dengan bebas dari si ibu kepada bayinya dan sampah-sampah yang dihasilkan dari metabolisme si bayi dikeluarkan kembali ke sirkulasi si ibu, tidak terjadi pertukaran darah walau setetes, dan ini terjadi secara normal. Darah si bayi itu dihasilkan dari tubuh di bayi itu sendiri. Si ibu sama sekali tidak menyumbangkan darahnya.
Howell, dalam bukunya Text Book of Physiology, menulis: “Untuk dapat mengerti fungsinya secara umum adalah dengan mengingat bahwa plasenta mengandung vascular chorionic papillae yang esensial dari fetus (janin bayi) yang terbungkus di dalam cairan darah membran desidual sang ibu. Fetal dan darah sang ibu tidak pernah berhubungan. Mereka dipisahkan satu sama lainnya oleh dinding pembuluh darah fetal dan selaput epithelial chorionic villae”.

William, dalam Practice of Obstetrics, edisi tiga menulis:

“Darah janin di dalam pembuluh chorionic villae tidak bercampur dengan darah ibunya, terpisah satu dengan lainnya oleh dua lapisan chorionic epithelium.”

Dilanjutkan:

“Secara normal tidak ada hubungan antara darah janin dengan darah ibunya.”

Dalam buku Nurse’s Handbook of Obstetrics karangan Louise Zabriskie, R.N, edisi lima dikatakan:

“Ketika sirkulasi darah mulai terjadi di dalam embrio, ia akan tetap terpisah dan berbeda dari darah ibunya. Semua makanan dan sampah larutan yang bergerak bolak-balik antara embrio dan si ibu haruslah melalui dinding pembuluh darah dari satu sirkulasi ke sirkulasi lainnya.”

Dilanjutkan:

“Janin menerima zat-zat makanan dan oksigen dari darah ibunya melalui medium plasenta. Jantung janin memompa darah melalui arteri tali pusat ke pembuluh plasenta, yang keluar dan masuk dari jaringan kandungan dan berhenti dekat sekali dengan pembuluh kandungan, mengakibatkan difusi, melalui dinding-dindingnya, dari sampah-sampah hasil prosuksi dalam tubuh janin ke ibunya dan zat-zat makanan dan oksigen dari ibunya ke janin tersebut. Seperti yang telah dikatakan, pertukaran ini diakibatkan oleh proses osmosis, dan tidak ada pencampuran secara langsung dari kedua aliran darah ini. Dengan kata lain, tidak ada darah dari si ibu yang mengalir ke dalam tubuh si janin dan begitu pula sebaliknya.”
Dengan melihat kerumitan ajaib tersebut, menegaskan akan kebenaran jari Allah menenun manusia Yesus dari seorang perawan, darah Yesus tidak memperoleh suplai dari darah Maria. Ketika ia menciptakan perempuan, Ia menciptakannya sedemikian rupa, sehingga tidak ada darah yang dapat mengalir dari tubuh perempuan itu kepada keturunannya. Untuk menciptakan manusia yang tidak berdosa dan juga keturunan dari Adam, Allah menyediakan suatu cara sehingga manusia itu memiliki tubuh yang berasal dari Adam, tetapi memiliki darah dari sumber yang terpisah. Luar biasa dan ajaibnya kejadian di dalam tubuh Yesus, yang darahNya bukan darah dari Adam, tetapi dari Tuhan.
Ibrani 2:14, mengatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka...”

Kata “anak-anak” (children) yakni anak-anak manusia – anak-anak dari darah dan daging, sedang Yesus dikatakan “menjadi sama” (took part of the same) dengan mereka (anak-anak manusia). Kata “took part” yang menunjuk pada Kristus, berbeda dengan “partakers” yang menunjuk kepada anak-anak manusia. “Menjadi sama” bisa diartikan sebagai “mengambil bagian dalam sesuatu di luar dirinya sendiri.” (Yun: mateco = mengambil bagian namun tidak seutuhnya). Sedangkan mengambil bagian seutuhnya (Yun: koynoneho), sehingga seluruh anak-anak Adam mengambil seutuhnya dari tubuh Adam dan darah Adam. Jelas di sini bahwa Kristus hanya mengambil bagian dalam tubuh, sedangkan darahNya dari pembuahan yang supranatural.
Yesus adalah manusia seutuhnya: menurut daging, Ia adalah keturunan Daud, tetapi darahNya berbeda dengan darah manusia. Adam yang pertama darahnya fana dan tercemar oleh dosa. Namun Adam yang terakhir, mengalir darah yang baru dan kudus dan yang tidak berdosa, yang secara daging keturunan Adam dan di dalam tubuhnya mengalir darah yang kudus. Pembuahan oleh Roh Kudus merupakan satu-satunya cara Allah membuat kelahiran suci dan sempurna. Maria memberi makan janin Yesus sehingga Yesus disebut keturunan Daud. Roh Kuduslah yang menyumbangkan darah Yesus, darah yang tidak berdosa. Inilah darah satu-satunya di dunia ini yang paling berbeda dari semua manusia.
Yudas dalam penyesalannya mengatakan dalam Mat: 27:4 : "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Memang Yesus sama sekali tidak bersalah atau berdosa dalam hal apapun. Karena darahNya adalah darah yang tidak berdosa maka darah Yesus adalah kekal dan tidak dapat binasa. Dengan sukarela telah menyerahkan darahnya untuk ditumpahkan bagi penebusan manusia dari dosa, sehingga, walaupun Ia sudah mati tiga hari tiga malam, tubuhNya tidak binasa. Maut tidak berkuasa atasNya, Ia telah menang atas maut.

Darah Yesus Berkuasa

Darah yang ada dalam keturunan Adam telah terkontaminasi oleh dosa, bukan hanya sekedar terkontaminasi sebagian, tetapi seluruhnya. Darah yang terkontaminasi tersebut berupa leukimia rohani yang membawa kematian, bukan hanya tubuh, tetapi juga roh. Oleh sebab itu, manusia keturunan Adam harus ditransfusi darah yang suci, yakni darah Yesus, darah yang penuh kuasa, baik atas maut dan dosa, bahkan atas iblis.
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapiNya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.” (Wah. 12:10-11)

Banyak nyawa manusia yang tertolong melalui tranfusi darah Anak Domba Allah dan memiliki hidup yang kekal. Tranfusi darah terbesar adalah ketika seseorang yang berdosa, yang telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosanya, diselamatkan oleh darah Yesus pada saat ia menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam hal ini yang dibutuhkan hanyalah iman.
Allah memiliki bank darah, yakni persediaan darah untuk siap ditransfusikan kapan saja dan tak terbatas persediaannya. Persediaan darah yang Tuhan punya cukup bagi semua manusia. Darah tersebut benar-benar darah yang steril dan suci hama, bebas dari segala kontaminasi dosa. Darah Yesus cocok untuk semua golongan, dan tidak dipungut biaya, alias gratis. Sekarang manusia yang darahnya sudah terkontaminasi dosa Adam, hanya tinggal datang kepada Yesus, maka Ia akan mencurahkan darahNya atas manusia yang berdosa, dan memiliki hidup yang kekal. Darah Yesus adalah darah yang sangat mahal. Karena mahalnya, sehingga tidak ada satu manusiapun yang bisa membeli dengan harta, atau bahkan nyawa sekalipun.
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Pet. 1:18-19).
Natal merupakan sebuah momentum, sekaligus menegaskan akan kelahiran Manusia Ajaib. Kehadiran bayi Yesus di dunia ini, untuk memberhentikan petualangan dosa yang berabad-abad lamanya bercokol dalam kehidupan manusia. Dosa berhasil mengelabui semua manusia termasuk para nabi, namun dosa tidak berhasil mengalahkan Yesus. Ia satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Dengan demikian darahNya yang kudus sanggup membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan maut.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihnya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (Roma 5:8-9).

Pemenang atau Pecundang



Judul di atas terinspirasi oleh sebuah pertanyaan yang diberikan kepada finalis Putri Indonesia 2009 di bagian akhir kompetisi tersebut. “Apa perbedaan seorang pahlawan dengan seorang pengecut?” begitulah kira-kira pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana dan cukup menarik bagi saya pribadi.
Saya rasa hampir setiap individu berharap dapat menjadi seorang pahlawan dan bukan malah menjadi seorang pengecut di masyarakat. Tidak ada yang terlahir dan ingin menjadi seorang yang pengecut, justru sebaliknya ingin menjadi figur pahlawan. Pahlawan tentu tidak selamanya harus sama persis seperti para pejuang dulu dengan membawa bambu runcing dan membela negara ini, melainkan seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya dan orang lain.
Ketika seseorang berjuang untuk dirinya sendiri, tidak menyerah akan keadaan yang sedang menimpa dirinya, terus berupaya meraih apa yang menjadi impiannya, dan merdeka atas belenggu negatif yang mengikat dirinya, maka saat itu ia menjadi pahlawan bagi dirinya.
Ketika seseorang berani mengungkap sebuah kebenaran untuk kebaikan banyak orang, berani bertindak untuk sesuatu yang positif bagi sekitarnya, menginspirasi banyak orang lewat karyanya, dan memberi nilai yang berharga untuk pertumbuhan orang lain, maka saat itu ia pun menjadi pahlawan bagi orang lain.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang masuk ke dalam golongan pengecut?
Sekali lagi, mereka tidak dilahirkan seperti itu dan otomatis menjadi orang yang pengecut. Akan tetapi mengapa tercipta golongan ini, karena pilihan yang mereka ambil sendiri. Menjadi berani atau tidak, mau merdeka atau tidak, mau berusaha atau tidak, mau menyerah atau tidak, menjadi orang yang berguna atau tidak, mau bangkit atau terus menerus jatuh, semua hal tersebut adalah pilihan yang diambil. Mereka yang pengecut takut untuk mengambil sebuah langkah yang besar untuk perubahan yang lebih baik. Mereka khawatir akan masa depan yang terjadi, dan mengeluhkan kejadian buruk yang terjadi pada dirinya saat ini.
Pola pikir, tingkah laku, determinasi, kepercayaan diri, antusiasme, adalah salah satu faktor yang bisa membedakan seorang pahlawan dengan seorang pengecut (pecundang). Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pahlawan, begitu pun sebaliknya. Anda tentu masih ingat dengan lagu yang dibawakan Mariah Carey, penggalan liriknya mengatakan demikian: “there’s a hero, if you look inside your heart, and you don’t have to be afraid of what you are…..”
Jadi, jangan sia-siakan potensi dalam diri Anda, lakukan hal besar dan positif untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Bangsa ini butuh banyak pejuang dan pahlawan, bukan seorang yang pengecut. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan sikap mental dan perilaku yang positif. Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa. (IMK)

Sabar disayang TUHAN

Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!"
Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."
Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus.
Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."
Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."
Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.
Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”.
Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.
Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya.
Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!
Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?