Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,-, ia bertanya kepada hadiri, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi. "Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,-." Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apa pun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial.
Senin, 19 April 2010
U are special
Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,-, ia bertanya kepada hadiri, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat. "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini." Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat. Lalu bertanya lagi, "Siapa yang masih mau uang ini?" Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi. "Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak. "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,-." Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti. Padahal apa pun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial.
Darah..!!!

Membicarakan darah, merupakan hal yang sangat pokok dalam Alkitab. Karena demikian pentingnya pokok ini, sehingga Alkitab mencatatnya sebanyak 312, belum segala sesuatu yang berhubungan dengan darah.
Mengapa darah menjadi begitu penting dalam Alkitab? Tentu kita semua tahu, bahwa tanpa darah, tidak ada kehidupan dari segala yang hidup, baik manusia maupun binatang. Perjanjian Lama sudah jauh-jauh menyinggung tentang darah, baik yang tersurat maupun yang tersirat (Kej. 3:21). Penumpahan darah pertama dilakukan oleh Kain terhadap Habel. Darah Habel terus berteriak di hadapan Allah, sehingga Allah harus menuntut hukuman terhadap Kain. Allah menuntut setiap pertumpahan darah, terutama darah orang tidak bersalah.
Sebuah buku yang sangat bagus karangan M.R. DeHaan M.D. telah banyak mengungkap rahasia tentang “Kimiawi Darah” terutama dalam diri Yesus. Mengapa Yesus harus mencurahkan darahNya di Kalvari? Mengapa harus darah yang harus dikucurkan untuk keselamatan manusia? Bagaimana hubungan nyawa dengan darah? Mengapa hanya darah Yesus yang dapat menghapus dosa? Hal yang lebih menarik lagi dalam hubungannya dengan “kelahiran suci” Yesus.
Fisiologi Tentang Darah
Bukanlah kebetulan atau asal-asalan Tuhan memprogram tubuh manusia dengan struktur yang rumit dan mengagumkan. Secara sempurna, Ia menciptakan manusia dengan berbagai macam jaringan dalam tubuh. Ada otot, syaraf, lemak, kelenjar, tulang, jaringan penghubung, dsb. Masing-masing bagian tersebut terdiri atas sel-sel, berukuran sangat kecil dan memiliki fungsi yang khusus dan terbatas.
Namun Tuhan menciptakan darah, yang merupakan bagian yang sangat unik dan sangat lain bila dibanding dengan jaringan-jaringan di atas. Darah itu berupa cairan yang bergerak, sehingga tidak terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi bebas bergerak ke seluruh bagian tubuh dan ia menyediakan sel-sel yang terdiri dari zat makanan dan sekaligus membawa sisa-sisa sampah yang dihasilkan oleh aktivitas sel. Inilah yang disebut dengan proses metabolisme.
Dalam tubuh manusia normal, cairan darah kurang lebih lima liter, dan darah tersebut dipompa oleh jantung dan beredar melalui sistem kurang lebih setiap 23 detik. Jadi setiap sel yang ada dalam tubuh disuplai terus-menerus dan dibersihkan, dan pada saat yang sama pula terjadi hubungan konstan dengan setiap sel lainnya yang ada di dalam tubuh.
Uraian di atas memiliki kandungan kebenaran spiritual yang lebih besar dan dalam, yakni rahasia tubuh Kristus. Jemaat Kristus disebut sebagai tubuh Kristus. Kita adalah bagian tubuhNya dan masing-masing anggota memiliki hubungan satu dengan lainnya. Di dalam tubuh ini, Yesus Kristus sebagai Kepala dan semua orang percaya sebagai anggotanya. Anggota-anggota ini dihubungkan dengan darahNya. Nyawa masing-masing anggota bergantung oleh darahNya. Demikian juga untuk tetap hidup, suplai makanan, kekudusan dan pertumbunhan, sangat bergantung semata-mata pada darah Anak Domba Allah, karena nyawa ada di dalam darah.
Darah Adam
Satu perkara yang menghubungkan semua manusia dengan setiap manusia lainnya adalah darah yang mengalir dalam tubuhnya. Semua manusia berasal dari satu darah dan darah itu adalah darah Adam, manusia pertama dan nenek moyang semua suku bangsa manusia. Adam, darahnya telah tercemar oleh dosa, mati karena pelanggaran- pelanggaran. Alkitab mengatakan: “Dari satu orang saja Ia (Allah) telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi”. (Kis. 17:26). Semua manusia memiliki kesamaan dengan diri Adam dan memiliki hubungan darah dengan Adam, baik orang Yahudi, Yunani, Negro, Jawa, Sunda, dsb.
Darah mereka membawa hukuman kematian karena dosa Adam, dan karena alasan inilah semua manusia mengalami kematian, tanpa terkecuali. Ingatlah, nyawa itu ada di dalam darah, dan jika manusia mati berarti darahnya sudah mati.
Meskipun kita tidak tahu sifat atau keberadaan buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat, kita tahu bahwa dengan memakannya kita mengalami “pencemaran darah” dan hal ini membawa kepada kematian. Buah yang baik dan yang jahat telah menjadi racun mematikan. Karena demikian hebatnya racun tersebut, walau sudah 6000 tahun, keturunan Adam masih membawa racun dosa melalui darahnya.
Adam tidak lain hanyalah seonggok debu tanah. Lalu ditiupkan “kehidupan” oleh Allah, dan kehidupan itu adalah darah. Hal ini tidak dapat disangkal lagi, karena memang jelas bahwa nyawa segala makhluk ada di dalam darah. Dan jika segumpal tanah tersebut diberikan darah oleh Allah, maka manusia itu akan menjadi mahluk hidup. Darahnya merupakan pemberian yang terpisah yang berasal dari Allah, karena Allah adalah Hidup.
Karena dosa maka Adam mengalami kematian rohani, dan akhirnya mati secara jasmani. Karena nyawa ada di dalam darah, dan ketika manusia itu mati, sesuatu terjadi pada darahnya. Dosa mencemari darah manusia, bukan tubuhnya, kecuali secara tidak langsung, karena tubuh disuplai oleh darah. Karena alasan inilah tubuh disebut tubuh yang berdosa karena ia terus-menerus diberi makan oleh darah yang telah dicemari dosa. Dan karena Allah telah menjadikan semua bangsa dari orang saja, maka dosa itu turun kepada semua keturunan Adam. Sebab itu karena satu orang berdosa, semua orang menjadi berdosa.
Kelahiran Suci
Dosa benar-benar telah mencemari darah manusia dan sudah seharusnya juga mencemari Kristus yang dilahirkan dari seorang anak dara, karena itu Kristus juga disebut keturunan Adam, namun Dia seorang yang tidak berdosa. Karena hal inilah Kristus mengambil bagian tubuh Adam, yang sifatnya tidak berdosa, tetapi Ia tidak mengambil bagian dari darah Adam, yang sesungguhnya telah tercemari dosa. Allah telah mempersiapkan suatu jalan, sehingga Yesus yang dilahirkan dari seorang perempuan (bukan pria) dapat menjadi manusia yang sempurna, namun Ia tidak mengandung darah Adam di dalam urat nadiNya. Dia tidak mengandung dosa Adam. Adapun kelahiran Yesus yang suci itu ditulis sbb:
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibuNya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. (Mat. 1:18-20).
Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh Nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita”. (Mat. 1:22-23).
Inilah kisah satu-satunya di dunia, di mana seorang lahir tanpa dibuahi oleh laki-laki. Kebenaran ini harus dipegang dan tidak bisa disangkal atau membuangnya dan menganggap hanya sebuah dongeng. Dengan jelas bahwa Yesus dikandung dalam rahim seorang anak dara Yahudi dari Roh Kudus. Ia benar-benar terpisah dari keturunan nenek moyang manusia.
Hal ini berkaitan dengan pernyataan Alkitab bahwa Ia memang tidak berdosa. Sebab ia tidak mewarisi sifat keberdosaan Adam yang mendatangkan kutuk dan kematian. Namun berbeda dengan Yesus, Ia tidak berdosa dan Ia tidak dapat mati, sampai Ia sendiri yang memikul dosa dan mati bagi manusia. Dialah manusia yang sempurna, sebab darahNya tidak tercemar oleh dosa.
Menurut teori kedokteran diketahui bahwa darah yang mengalir di dalam arteri seorang bayi yang masih ada di dalam kandungan tidak berasal dari si ibu, tetapi dihasilkan dari tubuh fetus. Namun hal ini terjadi setelah sel sperma membuahi sel telur dan fetus mulai terbentuk, lalu munculah darah.
Para ahli berpendapat, tidak ada gunanya setetes darah diberikan untuk mengembangkan embrio di dalam rahim seorang ibu. Ibu menyediakan bagi fetus (janin bayi yang belum lahir), zat-zat makanan untuk pertumbuhan tubuh fetus itu ada di dalam rahimnya, tetapi darah yang di dalam tubuh fetus itu dihasilkan oleh embrio itu sendiri. Dari masa pembuahan sampai lahirnya bayi, tidak setetes darahpun dialirkan dari si ibu kepada bayinya.
Plasenta, suatu jaringan yang lebih dikenal dengan nama ‘Uri/Lembuni’ yang membentuk selang antara si ibu dengan bayinya. Plasenta terbentuk dengan begitu sempurna sehingga walaupun semua zat makanan yang dapat larut seperti protein, lemak, karbohidrat, garam, mineral, dan juga antibodi mengalir dengan bebas dari si ibu kepada bayinya dan sampah-sampah yang dihasilkan dari metabolisme si bayi dikeluarkan kembali ke sirkulasi si ibu, tidak terjadi pertukaran darah walau setetes, dan ini terjadi secara normal. Darah si bayi itu dihasilkan dari tubuh di bayi itu sendiri. Si ibu sama sekali tidak menyumbangkan darahnya.
Howell, dalam bukunya Text Book of Physiology, menulis: “Untuk dapat mengerti fungsinya secara umum adalah dengan mengingat bahwa plasenta mengandung vascular chorionic papillae yang esensial dari fetus (janin bayi) yang terbungkus di dalam cairan darah membran desidual sang ibu. Fetal dan darah sang ibu tidak pernah berhubungan. Mereka dipisahkan satu sama lainnya oleh dinding pembuluh darah fetal dan selaput epithelial chorionic villae”.
William, dalam Practice of Obstetrics, edisi tiga menulis:
“Darah janin di dalam pembuluh chorionic villae tidak bercampur dengan darah ibunya, terpisah satu dengan lainnya oleh dua lapisan chorionic epithelium.”
Dilanjutkan:
“Secara normal tidak ada hubungan antara darah janin dengan darah ibunya.”
Dalam buku Nurse’s Handbook of Obstetrics karangan Louise Zabriskie, R.N, edisi lima dikatakan:
“Ketika sirkulasi darah mulai terjadi di dalam embrio, ia akan tetap terpisah dan berbeda dari darah ibunya. Semua makanan dan sampah larutan yang bergerak bolak-balik antara embrio dan si ibu haruslah melalui dinding pembuluh darah dari satu sirkulasi ke sirkulasi lainnya.”
Dilanjutkan:
“Janin menerima zat-zat makanan dan oksigen dari darah ibunya melalui medium plasenta. Jantung janin memompa darah melalui arteri tali pusat ke pembuluh plasenta, yang keluar dan masuk dari jaringan kandungan dan berhenti dekat sekali dengan pembuluh kandungan, mengakibatkan difusi, melalui dinding-dindingnya, dari sampah-sampah hasil prosuksi dalam tubuh janin ke ibunya dan zat-zat makanan dan oksigen dari ibunya ke janin tersebut. Seperti yang telah dikatakan, pertukaran ini diakibatkan oleh proses osmosis, dan tidak ada pencampuran secara langsung dari kedua aliran darah ini. Dengan kata lain, tidak ada darah dari si ibu yang mengalir ke dalam tubuh si janin dan begitu pula sebaliknya.”
Dengan melihat kerumitan ajaib tersebut, menegaskan akan kebenaran jari Allah menenun manusia Yesus dari seorang perawan, darah Yesus tidak memperoleh suplai dari darah Maria. Ketika ia menciptakan perempuan, Ia menciptakannya sedemikian rupa, sehingga tidak ada darah yang dapat mengalir dari tubuh perempuan itu kepada keturunannya. Untuk menciptakan manusia yang tidak berdosa dan juga keturunan dari Adam, Allah menyediakan suatu cara sehingga manusia itu memiliki tubuh yang berasal dari Adam, tetapi memiliki darah dari sumber yang terpisah. Luar biasa dan ajaibnya kejadian di dalam tubuh Yesus, yang darahNya bukan darah dari Adam, tetapi dari Tuhan.
Ibrani 2:14, mengatakan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka...”
Kata “anak-anak” (children) yakni anak-anak manusia – anak-anak dari darah dan daging, sedang Yesus dikatakan “menjadi sama” (took part of the same) dengan mereka (anak-anak manusia). Kata “took part” yang menunjuk pada Kristus, berbeda dengan “partakers” yang menunjuk kepada anak-anak manusia. “Menjadi sama” bisa diartikan sebagai “mengambil bagian dalam sesuatu di luar dirinya sendiri.” (Yun: mateco = mengambil bagian namun tidak seutuhnya). Sedangkan mengambil bagian seutuhnya (Yun: koynoneho), sehingga seluruh anak-anak Adam mengambil seutuhnya dari tubuh Adam dan darah Adam. Jelas di sini bahwa Kristus hanya mengambil bagian dalam tubuh, sedangkan darahNya dari pembuahan yang supranatural.
Yesus adalah manusia seutuhnya: menurut daging, Ia adalah keturunan Daud, tetapi darahNya berbeda dengan darah manusia. Adam yang pertama darahnya fana dan tercemar oleh dosa. Namun Adam yang terakhir, mengalir darah yang baru dan kudus dan yang tidak berdosa, yang secara daging keturunan Adam dan di dalam tubuhnya mengalir darah yang kudus. Pembuahan oleh Roh Kudus merupakan satu-satunya cara Allah membuat kelahiran suci dan sempurna. Maria memberi makan janin Yesus sehingga Yesus disebut keturunan Daud. Roh Kuduslah yang menyumbangkan darah Yesus, darah yang tidak berdosa. Inilah darah satu-satunya di dunia ini yang paling berbeda dari semua manusia.
Yudas dalam penyesalannya mengatakan dalam Mat: 27:4 : "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Memang Yesus sama sekali tidak bersalah atau berdosa dalam hal apapun. Karena darahNya adalah darah yang tidak berdosa maka darah Yesus adalah kekal dan tidak dapat binasa. Dengan sukarela telah menyerahkan darahnya untuk ditumpahkan bagi penebusan manusia dari dosa, sehingga, walaupun Ia sudah mati tiga hari tiga malam, tubuhNya tidak binasa. Maut tidak berkuasa atasNya, Ia telah menang atas maut.
Darah Yesus Berkuasa
Darah yang ada dalam keturunan Adam telah terkontaminasi oleh dosa, bukan hanya sekedar terkontaminasi sebagian, tetapi seluruhnya. Darah yang terkontaminasi tersebut berupa leukimia rohani yang membawa kematian, bukan hanya tubuh, tetapi juga roh. Oleh sebab itu, manusia keturunan Adam harus ditransfusi darah yang suci, yakni darah Yesus, darah yang penuh kuasa, baik atas maut dan dosa, bahkan atas iblis.
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapiNya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.” (Wah. 12:10-11)
Banyak nyawa manusia yang tertolong melalui tranfusi darah Anak Domba Allah dan memiliki hidup yang kekal. Tranfusi darah terbesar adalah ketika seseorang yang berdosa, yang telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosanya, diselamatkan oleh darah Yesus pada saat ia menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam hal ini yang dibutuhkan hanyalah iman.
Allah memiliki bank darah, yakni persediaan darah untuk siap ditransfusikan kapan saja dan tak terbatas persediaannya. Persediaan darah yang Tuhan punya cukup bagi semua manusia. Darah tersebut benar-benar darah yang steril dan suci hama, bebas dari segala kontaminasi dosa. Darah Yesus cocok untuk semua golongan, dan tidak dipungut biaya, alias gratis. Sekarang manusia yang darahnya sudah terkontaminasi dosa Adam, hanya tinggal datang kepada Yesus, maka Ia akan mencurahkan darahNya atas manusia yang berdosa, dan memiliki hidup yang kekal. Darah Yesus adalah darah yang sangat mahal. Karena mahalnya, sehingga tidak ada satu manusiapun yang bisa membeli dengan harta, atau bahkan nyawa sekalipun.
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Pet. 1:18-19).
Natal merupakan sebuah momentum, sekaligus menegaskan akan kelahiran Manusia Ajaib. Kehadiran bayi Yesus di dunia ini, untuk memberhentikan petualangan dosa yang berabad-abad lamanya bercokol dalam kehidupan manusia. Dosa berhasil mengelabui semua manusia termasuk para nabi, namun dosa tidak berhasil mengalahkan Yesus. Ia satu-satunya manusia yang tidak berdosa. Dengan demikian darahNya yang kudus sanggup membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan maut.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasihnya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (Roma 5:8-9).
Pemenang atau Pecundang
Judul di atas terinspirasi oleh sebuah pertanyaan yang diberikan kepada finalis Putri Indonesia 2009 di bagian akhir kompetisi tersebut. “Apa perbedaan seorang pahlawan dengan seorang pengecut?” begitulah kira-kira pertanyaannya. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana dan cukup menarik bagi saya pribadi.
Saya rasa hampir setiap individu berharap dapat menjadi seorang pahlawan dan bukan malah menjadi seorang pengecut di masyarakat. Tidak ada yang terlahir dan ingin menjadi seorang yang pengecut, justru sebaliknya ingin menjadi figur pahlawan. Pahlawan tentu tidak selamanya harus sama persis seperti para pejuang dulu dengan membawa bambu runcing dan membela negara ini, melainkan seseorang bisa menjadi pahlawan bagi dirinya dan orang lain.
Ketika seseorang berjuang untuk dirinya sendiri, tidak menyerah akan keadaan yang sedang menimpa dirinya, terus berupaya meraih apa yang menjadi impiannya, dan merdeka atas belenggu negatif yang mengikat dirinya, maka saat itu ia menjadi pahlawan bagi dirinya.
Ketika seseorang berani mengungkap sebuah kebenaran untuk kebaikan banyak orang, berani bertindak untuk sesuatu yang positif bagi sekitarnya, menginspirasi banyak orang lewat karyanya, dan memberi nilai yang berharga untuk pertumbuhan orang lain, maka saat itu ia pun menjadi pahlawan bagi orang lain.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang masuk ke dalam golongan pengecut?
Sekali lagi, mereka tidak dilahirkan seperti itu dan otomatis menjadi orang yang pengecut. Akan tetapi mengapa tercipta golongan ini, karena pilihan yang mereka ambil sendiri. Menjadi berani atau tidak, mau merdeka atau tidak, mau berusaha atau tidak, mau menyerah atau tidak, menjadi orang yang berguna atau tidak, mau bangkit atau terus menerus jatuh, semua hal tersebut adalah pilihan yang diambil. Mereka yang pengecut takut untuk mengambil sebuah langkah yang besar untuk perubahan yang lebih baik. Mereka khawatir akan masa depan yang terjadi, dan mengeluhkan kejadian buruk yang terjadi pada dirinya saat ini.
Pola pikir, tingkah laku, determinasi, kepercayaan diri, antusiasme, adalah salah satu faktor yang bisa membedakan seorang pahlawan dengan seorang pengecut (pecundang). Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi seorang pahlawan, begitu pun sebaliknya. Anda tentu masih ingat dengan lagu yang dibawakan Mariah Carey, penggalan liriknya mengatakan demikian: “there’s a hero, if you look inside your heart, and you don’t have to be afraid of what you are…..”
Jadi, jangan sia-siakan potensi dalam diri Anda, lakukan hal besar dan positif untuk diri Anda sendiri dan orang lain. Bangsa ini butuh banyak pejuang dan pahlawan, bukan seorang yang pengecut. Mari kita bangun kembali bangsa ini dengan sikap mental dan perilaku yang positif. Yakinkan diri Anda bahwa Anda bisa. (IMK)
Sabar disayang TUHAN
Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!"
Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."
Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus.
Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."
Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."
Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.
Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”.
Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.
Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya.
Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!
Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, "Guru, ajarilah saya kungfu!"
Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, "Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas."
Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus.
Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, "Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan."
Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, "Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya."
Sang guru tersenyum sambil berkata, "Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya."
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu.
Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan. Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”.
Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.
Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya.
Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras. Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa!
Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang ”cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?
Minggu, 16 Agustus 2009
Sudahkah Kita Sungguh-Sungguh MERDEKA?

“Grace is not an excuse to sin, but it is the power not to!“
Di tiap bulan Agustus, terdapat beberapa negara merayakan hari kemerdekaannya, salah satunya negara Indonesia kita yang tercinta ini. Sebagai warga negara Indonesia, kita bangga punya pemerintahan yang mandiri terlepas dari kendali bangsa lain, sehingga ke dalam kita punya keleluasaan mengatur diri kita sendiri, dan di luar kita berdiri sejajar dengan negara-negara lain dalam pergaulan internasional.
Selain sebagai warga negara Indonesia, kita juga adalah warga Kerajaan Sorga. Masing-masing status ini diperoleh sebagai hasil dari yang disebut sebagai “pembebasan” yang membuahkan kemerdekaan. Kemerdekaan Negara Indonesia dan kemerdekaan seorang Kristen yang sejati diperoleh melalui pengorbanan dan curahan darah. Kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan para pendahulu-pendahulu kita yang rela mati demi terbebasnya bangsa Indonesia dari kolonialisme. Sama dengan itu, kita juga dibebaskan dari belenggu dosa karena Kristus rela menderita bahkan mati. Film “Passion of Christ” memberi kita gambaran tentang betapa menderitanya Kristus di hari penyaliban-Nya.
Namun, dari kesamaan tersebut, terdapat perbedaan yang substansial antara kedua kemerdekaan dimaksud, yakni bahwa (a) kemerdekaan Negara Indonesia diraih (achieved) sebagai hasil perjuangan rakyat Indonesia sendiri, bukan diberikan oleh bekas penjajah, dan sebaliknya, (b) kemerdekaan kita dari belenggu dosa, semata-mata adalah hasil anugerah Tuhan bagi kita yang kita terima (received) secara cuma-cuma.
Kemerdekaan Semu
Hidup di alam kemerdekaan sekarang ini memang memberi banyak kenyamanan. Apalagi di dalam dunia globalisasi saat ini. Globalisasi dan teknologi telah memberi manusia modern akses ke suatu produk yang disebut “kebebasan” yang lebih besar untuk memilih. Setiap orang pasti mendambakan kebebasan (dalam batas tertentu secara subjektif). Kebebasan memberi wadah dan kepuasan bagi manusia untuk menyalurkan daya cipta, rasa dan karsanya. Kebebasan memang menjadi hak asasi manusia.
Tetapi, “kebebasan” dapat berubah menjadi “kebablasan” apabila, dalam hubungan sosial, kebebasan yang ada tidak menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan manusia yang merupakan suatu potensi, justru akan menjadi “krisis” apabila tidak dibatasi. Oleh karenanya, kebebasan saya harus dibatasi oleh kebebasan Anda, dan sebaliknya. Apabila tidak, manusia akan menjadi “serigala” bagi manusia lainnya (homo homini lupus).
Kebebasan akan mencapai tahap paling tragis dan ironis apabila kebebasan justru menciptakan “penjara” bagi yang bersangkutan. Tanpa kita sadari, kita pernah atau mungkin kerap terperangkap dan terbelenggu dengan “kebebasan” kita, apabila kita sudah tidak dapat berkata “tidak” untuk suatu pilihan dalam kebebasan dimaksud. Berapa banyak manusia yang sangat menikmati “kebebasan” yang melekat padanya sehingga ia sudah begitu tergantung pada “kebebasan” itu sendiri.
Mereka yang katanya hidup “merdeka” sehingga memilih menjalani suatu kebiasaan buruk tanpa ada yang menghalangi atau membatasi, hanya justru akan menjadi narapidana dari penjara “kebebasan”nya sendiri apabila ia tidak dapat lagi menolak melakukan hal yang sama. Dalam hal demikian, it’s not about freedom—it’s about addiction.
Dosa memang manis. Tetapi “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12; 16:25). Dunia tanpa Kristus ibarat sementara berbaris pada rute sedemikian.
Kemerdekaan oleh dan dari Kristus
Maut: musuh terbesar manusia
Adakah ketakutan manusia yang lebih besar dari ketakutan menghadapi maut?
Semua orang pasti punya rasa takut karena rasa takut memang manusiawi. Yang beda hanyalah tingkat dan jenis rasa takut. Ada ketakutan yang rasional, ada pula yang sudah tidak rasional. Rasa takut membantu manusia untuk terhindar dari bahaya yang lebih besar. Takut kena api mencegah orang untuk tidak merasakan sakit bila terbakar. Ada yang takut untuk hal-hal yang baru sehingga orang tersebut tidak berani mengambil keputusan tegas melakukan perubahan.
Tetapi, seberani-beraninya seseorang, orang tersebut, sepanjang dia belum mengenal dan menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya, pasti akan mengalami ketakutan saat ajal menjemput dia. Bahkan, kata orang, ada orang yang masih dalam proses kematiannya sudah mengalami penderitaan secara spriritual, umpama, karena ketika hidup ia akrab dengan okultisme (ilmu hitam).
Pada umumnya orang takut mati, antara lain mungkin karena, dia terlalu mengasihi dunia ini, atau dia tidak mengetahui ada apa di balik kematian, atau bahkan dia sadar bahwa dia pantas mengalami penghukuman yang menanti dia setelah kematiannya dan dia tidak menemukan atau tidak mau menerima jalan keselamatan kekal melalui Kristus hingga kematiannya.
Maut: musuh terakhir manusia (I Kor.15:26)
Di dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini, setiap orang pasti menghadapi kesulitan, baik pergumulan batin di dalam dirinya maupun ketegangan dengan faktor-faktor di luar dirinya. Ada yang melihat “kesulitan” secara positif di mana setiap “kesulitan” ditanggapi sebagai tantangan bahkan peluang untuk menjadi makin baik. Tetapi ada juga mereka yang melihat dari sudut lain dan menjadikan “kesulitan” sebagai musuh, termasuk orang-orang yang menciptakan “kesulitan” bagi dia. Tetapi, pada umumnya segala hal yang mengancam eksistensi atau kemapanan seseorang akan selalu dilihat sebagai “musuh”, terlepas dari apakah yang bersangkutan akan menghadapi, melarikan diri atau menyikapi dengan cara lain atas “musuh” nya tersebut.
Di dalam konteks waktu, rangkaian proses upaya “penaklukan” musuh apapun tadi akan berujung pada kenyataan absolut bahwa ada “kematian” menanti setiap orang yang menjadi musuh terakhir untuk dihadapi, kalau tidak bisa ditaklukkan. Pada umumnya, orang berusaha mengelak atau “menunda” datangnya kematian dan ingin menikmati umur panjang (namun, lucunya, tidak mau jadi tua). Tapi, setiap orang sudah ditetapkan untuk mati. Bahkan kematian dapat datang tanpa peringatan (Amsal 27:1). Semua manusia pada dasarnya berbaris antri menunggu saat ajal menjemput. Ada yang lama berbarisnya, ada yang relatif singkat.
Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengalahkan kematian. Kenapa? Karena semua manusia sudah berdosa (Roma 3:10, 23) dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Semua manusia pasti mengalami kematian. Manusia telah ditetapkan untuk mati sekali saja dan kemudian dihakimi (Ibrani 9:27).
Apabila sejarah manusia hanya sampai di situ, sorga tidak akan pernah dihuni oleh manusia dan sejarah manusia akan berakhir tragis: setelah dicipta menurut rupa ALLAH dan menikmati segala ciptaan lainnya dari ALLAH yang luar biasa selama hidupnya, manusia akan berakhir pada ruangan penghukuman kekal.
Puji syukur kepada ALLAH! ALLAH kita adalah ALLAH yang “mengosongkan diri” dan menyangkal diri-Nya bersedia turun ke dunia mengambil rupa seorang manusia. Tidak ada jalan lain bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Pencipta-Nya selain berdasarkan inisiatif perdamaian yang datang sendiri dari ALLAH. Dosa manusia yang membuat manusia gagal memenuhi standar ALLAH, telah membuat manusia seteru ALLAH. Dosa manusia telah menciptakan suatu jurang antara ALLAH dan manusia yang tidak terseberangi oleh manusia.
Semua manusia karena dosanya pasti mengalami maut (Roma 3:23 dan 6:23). Memang, hanya manusia sajalah yang mengalami kematian (untuk kemudian dihakimi). Karenanya, agar Kristus dapat mengalahkan maut, Kristus harus menjadi manusia sehingga Kristus dapat mati, dan kemudian bangkit (Ibrani 2:14). Tetapi, berbeda dengan kematian manusia yang disebabkan karena dosa manusia sendiri, kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang terjadi karena kehendak ALLAH (Galatia 1:4) dan kematian yang saatnya ditentukan sendiri oleh Kristus, bukan karena dibunuh tentara Romawi (Yoh.10:17-18).
Kematian Kristus adalah kematian yang menelan kematian (Yesaya 25:8). Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan-Nya atas kuasa maut. 1 Korintus 15:17: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”
Kemerdekaan yang dibawa oleh Kristus adalah kemerdekaan yang sejati karena telah menaklukkan sekali dan untuk selama-lamanya “musuh” terbesar dan terakhir manusia, yakni dosa dan kematian.
Kehidupan kita saat ini menjadi relevan bagi kehidupan setelah kematian karena sudah ada Kristus yang menjembatani kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian. Tanpa Kristus, hidup kita sekarang tidak akan membawa nilai tambah apa-apa bagi kehidupan setelah kematian karena sebaik-baiknya, sesaleh-salehnya dan sesuci-sucinya kita hidup di dunia ini, semuanya tidak mempunyai nilai apa-apa dan tidak dapat memuaskan standar kesempurnaan ALLAH untuk berdamai dengan ALLAH. Kemerdekaan oleh Kristus bagi kita 2000 tahun lalu sudah membereskan dan mempersiapkan bagi kita kehidupan berikut kita.
Ada suatu hikayat tentang suatu kerajaan yang mempunyai tradisi yang unik. Orang yang menjadi raja di kerajaan tersebut diberi kesempatan untuk mendapatkan apa saja yang dikehendakinya, dengan ketentuan, setelah mencapai “usia pensiun” sebagai raja ia harus turun tahta dan dibuang ke pulau yang tidak menyediakan fasilitas kemudahan apapun sehingga yang bersangkutan harus berusaha sendiri melakukan survival untuk bertahan hidup. Pulau pembuangan itu telah menjadi saksi bisu bagi kehidupan yang tragis dan ironis dari para mantan raja yang sangat menderita mengalami post power syndrome. Walaupun hidup berkelimpahan di pulau istana, hidup masing-masing raja tersebut tidak pernah tenteram karena mereka sudah mengetahui bagaimana jadinya mereka di pulau kedua.
Tetapi satu kali bertahta–lah seorang raja yang berhikmat. Selama ia bertahta, salah satu perintahnya adalah melakukan renovasi total atas pulau angker tersebut. Pulau yang tadinya menjadi mimpi buruk bagi para raja pendahulunya kini telah disulap menjadi tidak kalah indah dengan pulau pertama. Begitulah, selama masa hidupnya di pulau pertama, ia tidak pernah mengkuatirkan kualitas kehidupannya di pulau kedua. Ketika saatnya tiba bagi raja ini untuk “dibuang”, ia dengan senang hati menyongsong tibanya hari itu.
Demikiankah hidup kita saat ini? Hanya apabila pulau tujuan kita sudah siap, kita dapat benar-benar menikmati hari dan tahun di pulau asal. Hanya dengan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita, maka kita dapat memperoleh kepastian mendapatkan tempat di Sorga kelak. Hanya bila kita siap mati, maka kita siap hidup.
Kemerdekaan yang dipersembahkan bagi Kristus
Kita yang sudah benar-benar mengalami kemerdekaan oleh Kristus kini benar-benar mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Dengan kekuatan yang kita terima melalui kesatuan kita dengan Kristus, kita akan dimampukan untuk tidak lagi terikat dengan tabiat-tabiat dan belenggu-belenggu dosa. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin masih kurang iman dan dalam sejumlah hal masih mengalami upaya-upaya penarikan oleh kekuatan dunia ini.
Memang, selama kita hidup selama itu pula cobaan menanti kita. Tingkat kualitas cobaan tersebut akan setara dengan potensi kegunaan kita bagi Kristus. Makin tinggi potensi kita, makin besar ancaman yang kita bawa atas rencana jahat iblis atas dunia ini. Dengan demikian, akan makin gencar pula serangan iblis bagi kita. Perjuangan iman ini memang tidak mudah karena perjuangan tersebut adalah perjuangan melawan roh-roh di angkasa, yakni kuasa si jahat (Efesus 6:12).
Salah satu jendela strategis yang Iblis selalu coba terobosi adalah pikiran kita.
Dengan mengendalikan pikiran dan pola pikir kita Iblis akan menguasasi salah satu sumber daya terbesar orang bersangkutan. Ia akan menggerogoti pikiran kita dengan membombardir kita dengan suara-suara yang mematahkan semangat dan iman kita, dan berusaha mengalihkan fokus hidup kita dari iman kepada Kristus kepada keadaan di depan mata dengan segala kemustahilan secara manusia. Iblis akan berusaha menutup pikiran kita bahwa kita sebenarnya sudah diselamatkan dan karenanya dengan kesatuan bersama kuasa kebangkitan Kristus, kita telah dilayakkan dan senantiasa akan dimampukan ALLAH untuk melayani-Nya.
Oleh karenanya, sisa hidup ini haruslah diisi dengan kehidupan yang senantiasa mengarahkan pandangan rohani kita kepada Kristus.
Sebagaimana lensa kamera yang harus selalu disesuaikan kembali dari waktu ke waktu setiap kali mengambil suatu gambar, demikian juga dengan fokus lensa hidup kita. Setiap keadaan di sekeliling kita, bahkan kondisi di dalam diri kita, senantiasa berbeda dari waktu ke waktu. Di tengah kondisi yang berubah-ubah sedemikian, Iblis selalu berupaya mencuri perhatian kita agar kita melepaskan fokus dan konsentrasi kita dari Kristus ke keadaan semu di sekeliling kita.
Sebagaimana Petrus yang akhirnya tenggelam setelah ia melapaskan fokusnya dari Kristus setelah beberapa waktu Petrus sempat berjalan di atas air ketika ia hanya mengarahkan konsentrasinya kepada Kristus semata, demikian juga kita akan ditaklukkan ketika kita justru fokus pada keadaan kita, kelemahan, kekuatiran kita atau “angin kencang” lain yang mengancam kita. Kita butuh mental rohani lensa kamera yang harus selalu difokus ulang dari waktu ke waktu untuk mempertahankan fokus pada Kristus semata.
Hanya hidup yang fokus pada Kristus membuat kita benar-benar merdeka dari beban hidup yang tidak perlu.
Kita akan mampu juga untuk memilih dan memilah mana yang berguna bagi kemuliaan Kristus, mana yang tidak dan karenanya harus dilepas. Kalau kita benar-benar fokus pada Kristus, tidak akan ada unsur dunia ini yang akan terlalu berat bagi kita untuk dilepaskan demi Kristus. Pada titik ini kita mengalami kemerdekaan sejati, dan hidup terasa jauh lebih ringan dan dapat dinikmati dalam damai Kristus.
Ketika Petrus diangkat kembali oleh Yesus setelah mulai tenggelam, saya yakin Petrus menyambut uluran tangan Yesus dengan kedua tangan Petrus, tidak dengan satu tangan saja. Artinya, ketika kita datang kepada dan bergantung pada Kristus untuk hal keselamatan, mari kita datang dengan seluruh keberadaan kita. Jangan biarkan satu tangan kita ada di tangan Kristus, tapi tangan yang satu lagi masih memegang sesuatu yang lain.
Tetapi, setelah diangkat oleh Kristus dari lautan maut dan selanjutnya mendapatkan kemerdekaan, kemerdekaan yang kita terima dari Kristus tersebut tidak boleh kita simpan untuk diri kita sendiri.
Pembebasan oleh Kristus telah bekerja (work in) dalam diri kita. Menindak-lanjuti hal itu, kita harus mengerjakan (work out) kemerdekaan dan keselamatan kekal yang telah kita terima (Filipi 2:12). Kristus telah mendamaikan (a) kita dengan ALLAH sehingga kita tidak perlu lagi mengalami sendiri murka ALLAH, dan (b) kita dengan diri kita sendiri.
Kini, yang harus kita kerjakan adalah membawa pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus, kepada sesama kita. Artinya, kita akan hidup dalam kedamaian dengan orang lain, kita mendamaikan orang lain dengan sesamanya, dan yang paling penting dan mendesak adalah kita mendamaikan sesama kita dengan ALLAH.
Berita pendamaian dengan ALLAH melalui Kristus harus kita teruskan, melalui pemberitaan Injil. 1 Korintus 9:16-18: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.”
ALLAH menghendaki kita mempunyai kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15), karena boleh memberitakan Injil sudah merupakan upah bagi kita. Apa isi pemberitaan Injil kita? 2 Timotius 2:8 “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. “
Kemerdekaan yang ALLAH berikan sebagai anugerah-Nya bukan merupakan alasan bagi kita untuk berbuat dosa, tetapi sebaliknya, justru menjadi kekuatan bagi kita untuk melawan godaan dosa, dan bahkan untuk meneruskan kemerdekaan tersebut ke orang lain. Kita akan sungguh-sungguh merdeka bila kita sudah mampu mengalahkan dan mengalihkan perhatian kita atas kenikmatan semu dunia ini, dan memasangkan pada kaki kita kasut kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (Efesus 6:15).
Äpakah orang yang mendengar pekabaran Injil yang kita sampaikan jadi bertobat dan menerima Kristus, itu bukan yurisdiksi kita tetapi hak prerogatif ALLAH sendiri (Yohanes 6:44 dan 1 Korintus 3:7-8).
Tugas kita hanya menabur Injil Kristus pada orang-orang yang ALLAH tempatkan di tempat dan waktu kita. Kalau ALLAH berkenan kita akan dipakai juga sebagai penuai jiwa sebagai hasil Injil yang mungkin ditaburkan orang lain sebelumnya. Sebagaimana rakyat Indonesia merayakan kemerdekaannya setiap tahun, demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat (Lukas 15:10).
Mari kita bijaksana dalam mengerjakan kemerdekaan kita. Daniel 12:3 “… orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.”
Yohanes 8:32,36 ”… kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu… Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Inilah kebenaran dan kemerdekaan sejati!
Rise and shine! Bangkit dan jadilah terang! (Yesaya 60:1)
Rabu, 12 Agustus 2009
Filosofi Pencil

“Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)
pensil“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”
“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman.. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal”.
“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia”.
“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu” .
drawing-pensil“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat”.
Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.
Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.
Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.
Hilang arah
Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan “tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya”. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.
Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.
Sebuah Pensil
Seorang pembuat pensil sebelum mengutus pensilnya ke dunia
memberikan empat pesan.
(1) Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang.
(2) Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu
itu untuk menjadi pensil yang baik.
(3) Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya.
(4) Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan
teruslah menulis.
Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran rohani yang luar biasa.
> Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan
hal yang besar. Hanya saja kalau kita membiarkan diri berada di
tangan Tuhan.
> Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan danperuncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat
menderita, tetapi mau tidak mau kita akan melewati proses itu demi
kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter ilahi muncul dalam hidup kita.
> Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah
bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang
hanya merupakan penampilan luar saja. Tuhan tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita.
> Keempat, di mana pun Tuhan taruh kita, selalu tinggalkan jejak atau
"tulisan-tulisan" yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang
membacanya. Jadilah orang kristiani yang berpengaruh dan selalu
meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita
SUDAHKAH KITA MENJADI PENSIL YANG MENINGGALKAN GORESAN MENDALAM?
memberikan empat pesan.
(1) Kamu bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya jika kamu mau berada di tangan seseorang.
(2) Kamu akan menderita setiap kali kamu diruncingkan, tetapi kamu perlu
itu untuk menjadi pensil yang baik.
(3) Bagian yang terpenting dari hidupmu adalah bagian yang ada di dalam, bukan bagian luarnya.
(4) Pada permukaan mana pun juga, selalu tinggalkan jejakmu dan
teruslah menulis.
Ilustrasi di atas menyimpan kebenaran rohani yang luar biasa.
> Pertama, kita memiliki potensi yang luar biasa dan mampu melakukan
hal yang besar. Hanya saja kalau kita membiarkan diri berada di
tangan Tuhan.
> Kedua, ada kalanya kita akan mengalami proses-proses pengeratan danperuncingan yang sangat menyakitkan. Itu membuat kita sangat
menderita, tetapi mau tidak mau kita akan melewati proses itu demi
kebaikan kita sendiri. Proses pengeratan kedagingan kita akan membuat karakter ilahi muncul dalam hidup kita.
> Ketiga, bagian yang terpenting dalam hidup kita adalah
bagian yang ada di dalam. Jangan pernah terjebak dengan hal-hal yang
hanya merupakan penampilan luar saja. Tuhan tidak pernah tergiur dengan topeng-topeng kita. Tuhan lebih melihat kedalaman hati kita.
> Keempat, di mana pun Tuhan taruh kita, selalu tinggalkan jejak atau
"tulisan-tulisan" yang benar-benar bisa memengaruhi orang yang
membacanya. Jadilah orang kristiani yang berpengaruh dan selalu
meninggalkan kesan yang mendalam bagi setiap orang yang bertemu dengan kita
SUDAHKAH KITA MENJADI PENSIL YANG MENINGGALKAN GORESAN MENDALAM?
Langganan:
Postingan (Atom)