Kamis, 07 Mei 2009

Ganja - Cimenk (Jangan!!!!!!!)


Ganja/cimeng :
Berbentuk daun-daun kering yang sudah dirajang kering dan ditempatkan (biasanya) dalam sebuah amplop kecil berukuran 25 X 15 cm.Dilinting seperti rokok dan dihisap, dimakan. Banyak dikonsumsi masyarakat, dari remaja sampai rakyat biasa. Mudah didapat dan cara pemakaiannya seperti merokok biasa. Harganya sangat murah : Rp. 10.000,- jadi 4 batang rokok.
Habis Pakai:
Kantung mata membengkak dan merah, bengong, pendengaran berkurang, susah berfikir/konsemtrasi, perasan menjadi gembira, selalu tertawa tanpa, sebab, pandangan kabur, ingin tidur terus, nafsu makan besar.
Sakauw :
Banyak berkeringat, Gelisah, Gemetaran, Nggak aa selera makan, Mual/muntah, Diare terus menerus, Nggak bisa tidur (insomnia), Ketakutan berlebihan yang nggak beralasan (paranoid), Tingkah laku aneh, melamun, tertawa sendiri.
Akibat :
Perasaan tidak tenang, tidak bergairah, cepat marah/sensitif.Jantung berdebar, Euforia (merasa sangat gembira tanpa sebab), Halusinasi dan delusi, Waktu terasa berjalan sangat lambat, Apatis, cuek terhadap diri dan lingungannya, nggak ada kemauan, Mata merah, Nafsu makan nambah, Mulut kering, Kelakuan jadi aneh, cemas, taku yang berlebihan, curiga berlebihan atau paranoid, kehilangan minat beraktivitas, malas belajar, malas bekerja, ditinggalkan kawan.Bronkitis/infeksi paru, Imunitas berkurang, Kemampuan membaca terganggu, Ketrampilan bicara terganggu, Motivasi berkurang, Rasa ingin bersaing berkurang.
Intisari:
Mengandung zat THC (Tetra Hydro Cannabinol) yaitu zat psikoaktif yang berefek halusinasi. Nama lain Mariyuana, Indian Hemp, Rumput, Barang, Gelek, Daun, Hijau, Bang, bunga, Ikat, Labang, cimeng. Akibat penggunaan ganja dalam waktu lama bakal terkena kecanduan yang cukup parah. Kebutuhan narkotika yang tidak terpenuhi akan menimbulkan rasa sakit nagih atau sakau. Selain itu ganja dapat memicu gangguan psikologis berupa kegilaan yang dinamakan skizofrenia. Baik skizofrenia maupun sakau karena nagih ganja sama-sama memiliki gejala awal yang disebut delusi. Delusi di sini ditandai dengan keyakinan yang berlebih bahwa dirinya merupakan perwujudan dari apa saja. Kebanyakan berupa perwujudan benda. Misalnya, ia merasa dirinya adalah patung, ember, sampah, dan lain sebagainya. Aktivitasnya bisa jadi berdiri membisu selama berjam-jam menghadap tembok, menyilet-nyilet tubuh sendiri, membentur-benturkan kepala, dan sebagainya. Oleh karena itu, pemakaian ganja sampai ke tingkat kecanduan di mana terjadi kekacauan fungsi berpikir, berperasaan, dan berperilaku sama saja dengan menalamai gangguan psikologis. Gangguan ini, karena gejalanya sama, bisa mencetuskan skizofrenia atau kegilaan di kalangan orang yang jiwanya labil dan mudah goyah (memiliki faktor predisposisi seperti misalnya kepribadian skizoid). Survey yang pernah ada menyebutkan bahwa umumnya, para penderita skizofrenia sebelumnya sebelumnya adalah pemakai ganja. Akibat lebih jauh, pengguna ganja akan mengalami koma. Kandungan aktif: 100 persen Cannabinoids.

Jumat, 24 April 2009

Menentang atau Sejalan


Menentang atau Sejalan

Pada saat jam makan siang seorang professor seminari yang sedang berjalan-jalan di lingkungna kampus mendapati seorang petugas kebersihan sedang membaca Alkitab. Sang professor bertanya kepadanya tentang kitab apa sedang dibaca. “Wahyu,” jawab petugas itu. Saya yakin anda tidak mengerti artinya, “ kata sang professor dengan nada meremehkan. “saya mengerti kok,” jawab petugas itu. “ artinya Yesus menang”.

Ketika diperhadpkan dengan tantangan hidup, penting bagi kita untuk mengingat bahwa Allah pada akhirnya selalu menang.!! Dan karena semua rencanaNya selalu ada di jalur kemenangan, tentulah lebih bijaksana bagi kita untuk sejalan dengan kehendakNya daripada menentangnya.

Dalam kisah Rut, Allah mengatur rencana bagi Boas untuk menyelamatkan Rut dan Naomi dari kemelaratan dan aib karena tidak memiliki pewaris. Rut bias saja mengalami kepahitan hati dengan statusnya sebagai janda muda, dan Boas mungkin saja berpikir bahwa Rut sebagai orang asing tidaklah sesuai untuknya. Namun, mengetahui campur tangan Allah dalam keadaan mereka dan membuat rencana mereka sejalan dengan rencanaNya untuk memenuhi kebutuhan Rut. Bagian terbaiknya adalah bahwa cerita mereka tidak berakhir disitu saja. Keselamatan untuk dunia akan adatang melalui keturunan-keturunan mereka. Pertama Daud dan kemudian Yesus (Mat 1:5-16).

Kita dapat menentang rencana Allah dann mengejar rencana kita sendiri. Atau kita dapat kita dapat sejalan dengan rencana Allah dan bergabung dengan pihak yang menang. Piliuhan ada pada kita. Jangan pilih jalan yang tidak diberkati Allah, karena hanya akan berakhir dengan kekalahan. Tetapi pilihlah jalan Allah yang berkemenangan dan janganlah menetang segala rencanaNya. Rencana Allah selalu menuntun kita untuk memperoleh kemenangan demi kemenangan.

Mengubah Dunia


Mengubah Dunia
Berusaha mengubah seseorang adalah pekerjaan yang sulit dan memang sulit. Betapa sempurnanya dunia jika saja orang lain mengikuti apa yang kita inginkan. Saya pernah membaca sebuah tulisan dinding yang intinya merupakan kunci rahasia perubahan. Tulisan aslinya dalam bahasa Belanda, yang diterjemahkan menjadi:
UBAHLAH DUNIA – MULAILAH DARI DIRI ANDA SENDIRI
Itu bukanlah hal yang ingin kita dengar!! Yesus menceritakan tentang perumpamaan bagaimana kita tidak dapat melihat kesalahan diri sendiri. Ia berkata, “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu; saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Luk 6:42).
Kemampuan untuk melihat kesalahan orang lain dengan mudah tanpa pernah memperhatikan kesalahan sendiri bukan hanya indikasi dari sebuah kemunafikan. Hal itu juga merupakan sebuah peringatan bahwa kemunafikan sayalah penyebab terjadinya masalah dalam suatu hubungan. Munglin tingkah laku saya yang perlu dirubah. Atau sayalah yang perlu minta maaf. Dapat juga sayalah yang memerlukan roh yang rendah hati.
Ini merupakan pelajaran yang harus kita pelajari terus menerus. Kita tidak dapat mengubah orang lain, tetapi dengan pertolongan Allah kita dapat mengubah tingkah laku kita sendiri. Dan ketika tingkah laku kita berubah, akan terlihat seakan-akan orang lain juga berubah.
Berubah adalah hal yang sangat indah
Walau kadang banyak halangan dan rintangan menghadang
Perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri
Dan membutuhkan banyak perjuangan (ChapunK)

Minggu, 05 April 2009

Engkau berharga Di Mata-Ku



Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, Aku ini mengasihi engkau... (Yesaya 43:4)

Malam itu betul-betul menjadi malam penuh pergumulan bagi Richard. Pemuda berusia 30-an ini berada di sebuah persimpangan jalan. Semuanya seakan-akan telah hilang, mulai dari keluarga, saudara hingga sahabat-sahabat dekatnya. Semenjak usahanya bangkrut beberapa bulan lalu, Richard mulai kehilangan semangat hidup. Hal ini diperburuk dengan semakin menjauhnya satu per satu sahabat dekatnya. Orang-orang yang semula dikira sahabat sejati ternyata hanya dekat tatkala hidupnya senang dan bergelimangan harta.

Yang membuat Richard bertambah sedih adalah kedua anak serta istrinya pun secara perlahan-lahan mulai menjauh dari kehidupannya. Sejak dua minggu lalu, istri Richard mengungsi ke rumah orang tuanya sambil membawa serta kedua anaknya. Kini, tinggal Richard seorang diri, terkurung di sebuah kamar kecil yang dikontraknya. Kepulan asap rokok menemani malam penuh kebimbangan itu.

"Semuanya telah hancur. Semuanya telah hilang. Rasanya tidak ada gunanya lagi aku hidup," kata Richard dalam hatinya. Air mata kemudian menetes membasahi pipinya itu. Richard kemudian membuka segel racun serangga yang baru dibelinya di warung sebelah. Ia ingin segera mengakhiri hidupnya. "Mati rasanya pilihan yang terbaik bagiku. Dengan kematian, aku tidak lagi menjadi beban bagi orang lain, terutama keluargaku," pikirnya.

Ketika racun serangga dituangkan Richard ke sebuah gelas, ia mulai merasakan hal yang aneh dalam hatinya. Suara hatinya seolah berbisik, "Kasihan anak-anakmu Richard. Mereka akan kehilangan seorang ayah..." Suara ini kemudian mengusik hatinya tapi tekadnya sudah bulat. Beberapa saat kemudian kegelisahan luar biasa kembali menghinggapinya. Richard kemudian mengambil sebuah notes yang berada dalam tasnya. Ia berencana menulis surat perpisahan buat istri dan anak-anaknya. Tidak disangka tangan kanan Richard saat itu memegang sebuah buku. Ya, sebuah buku yang tampaknya tidak asing namun telah lama tidak disentuhnya. Buku itu bernama Alkitab.

Bayangan masa lalu pun mulai muncul di benak Richard. Ia ingat persis bagaimana ia bertemu seorang gadis -yang sekarang adalah istrinya- ketika aktif dalam pelayanan pemuda di sebuah gereja, sekitar 5 tahun silam. Richard menggenggam erat Alkitab tersebut lalu suara hatinya seakan-akan menyuruhnya untuk membuka buku suci tersebut. Dengan ogah-ogahan, ia kemudian membukanya. Betapa terkejutnya Richard ketika halaman yang dibukanya itu ternyata memuat firman Tuhan yang betul-betul mengena di hatinya: "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, Aku ini mengasihi engkau (Yesaya 43:4). Seketika itu juga Richard seolah kembali menemukan hidupnya. Ia merasakan ada suatu aliran kasih mesra yang mengalir dalam hatinya.

Richard tidak kuasa menahan emosi batinnya. Ia menangis tersedu-sedu lalu berlutut dan berdoa, "Tuhan, jika sungguh aku ini berharga di mata-Mu, bantulah aku agar sanggup menghadapi semuanya ini." Keheningan malam itu membuat Richard mampu menangkap sebuah suara lembut di hatinya, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, anak-Ku." Richard kemudian membuang racun serangga itu dan berkomitmen untuk bangkit kembali. Kini, ia berhasil kembali membangun bisnisnya dan hidup bahagia bersama keluarganya kembali.

Kisah yang dialami Richard ini tampaknya juga dialami banyak orang lain di dunia ini. Dari tahun ke tahun kita bisa melihat dengan jelas, orang-orang yang bunuh diri karena merasa hidupnya tidak lagi berharga. Konon setiap tahunnya terdapat 1 juta orang yang bunuh diri di seluruh dunia. Betapa menyedihkan!

Peristiwa yang dialami Richard juga mengingatkan saya akan pengalaman pahit yang saya alami sekitar 12 tahun silam. Sebagai anak perantau di Bandung, saat itu saya benar-benar putus asa setelah usaha orang tua di Papua sana bangkrut total. Saya bukan saja terancam putus sekolah namun juga mulai kehilangan arah masa depan saya. Di saat sulit itu, saya kemudian mengalami infeksi tulang belakang yang nyaris melumpuhkan saya. Hampir saja saya bunuh diri karena tidak tahan lagi. Namun seorang sahabat mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita terus menderita. "Tuhan tidak pernah menjanjikan sebuah hidup yang selalu penuh kemudahan namun Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita," katanya.

Keyakinan seperti itulah yang membuat saya bangkit dan mampu mengatasi berbagai persoalan hidup bersama-Nya. Perlahan-lahan namun pasti tangan Tuhan bekerja nyata dalam hidup saya. Dalam waktu beberapa bulan kemudian, saya memperoleh orang tua angkat dan seorang pacar yang sekarang menjadi istri saya.

Bercermin dari kisah di atas, saya ingin menegaskan kembali: tidak peduli seburuk apa pun keadaan kita, Tuhan tetap menyayangi kita dan akan membantu kita untuk mengatasinya. Tidak peduli apakah seisi dunia telah meninggalkan kita, Tuhan tetap akan menjadi sahabat setia kita. Pertanyaannya sekarang, bersediakah kita membuka hati kita untuk-Nya?

Artikel ini dikutip dari Buku Melangkah Maju di Masa Sulit (Stand Strong) karya Paulus Winarto, Penerbit Andi 2005.

Minggu, 15 Maret 2009

HANYA UNTUK DILIHAT ALLAH




Biasanya, semakin tua usia kita, kita pun akan semakin kehilangan
peran penting dan pengaruh dalam posisi kita. Bahkan orang-orang yang
tidak pernah mengejar ketenaran pun tampaknya semakin lama akan
semakin tenggelam dalam kegelapan.

Namun, kegelapan dan ketidakjelasan itu baik karena kita sulit untuk
tampil di hadapan banyak orang tanpa memikirkan apa kesan mereka
tentang kita. Kita khawatir dengan pikiran apakah reputasi kita
menanjak atau justru hancur. Di situlah terletak cobaan kita: Pada
tahap pencarian pengakuan manusia, kita mengabaikan kehendak Allah.
Di sisi lain, jika kita kehilangan kekaguman terhadap manusia, maka
kita akan mencari kehendak Allah semata.

Berikut adalah ujian bagi setiap pemberian, doa, dan puasa kita:
Apakah itu semua dilakukan hanya agar dilihat Allah? Jika demikian,
walaupun orang lain tidak melihat dan memerhatikan, kita akan
mendapatkan pujian dan upah dari Bapa.

Yesus mengulang perkataan berikut kepada para murid-Nya sebanyak tiga
kali: "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya
kepadamu" (Matius 6:4,6,18). Ini juga merupakan jaminan bagi kita.
Setiap pemberian yang tidak dilihat oleh orang: waktu, tenaga, dan
kasih; setiap permohonan yang kita bisikkan di telinga Bapa; setiap
rahasia, pergumulan batin melawan dosa dan pembenaran diri, akan
memperoleh penghargaan penuh di kemudian hari. Akhirnya, bahwa Dia
akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan
setia," itu adalah yang terpenting bagi kita (Matius 25:21)

Kwalifikasi Perubahan Iman kristen


Efesus 4:20-24 dengan penekanan di ayat 22. Di bagian ini kita akan mempelajari tentang konsep perubahan dari manusia lama menuju manusia baru. Seperti yang dikatakan dalam ayat 20 yaitu, "Tetapi kamu bukan demikian," yang berarti ada satu perubahan dari kondisi yang lama menuju pada kondisi yang baru. Dari kondisi belum mengenal Tuhan menjadi kondisi yang sesuai dengan Firman dan mengerti serta mengenal Tuhan secara tepat. Kalau kita boleh kembali pada pengajaran dan mendapatkan kebenaran yang nyata dalam Kristus, itu bukan karena kemampuan diri kita sendiri tetapi karena Tuhan masih berbelas kasihan pada kita.

Selanjutnya dalam ay 22 Paulus mengatakan, "Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan." Paulus disini memberi penekanan tambahan, ‘harus menanggalkan manusia lama!’ Ini merupakan satu pengajaran paradoks yang luar biasa rumit dan sulit. Alkitab menekankan iman Kristen yang menuntut satu tingkat perubahan atau pergeseran dasar yang bukan hanya dipermukaan tetapi menyangkut hingga keakar permasalahan inti iman itu sesungguhnya. Dan itulah yang dinamakan perubahan dari kondisi natur lama menjadi natur baru. Jikalau demikian, dalam kondisi lama atau barukah kita sekarang hidup? Inilah yang disebut paradoks dan hal ini harus kita mengerti secara tepat dalam kehidupan kita. Prinsipnya disini adalah perubahan yang nyata dari manusia lama menuju manusia baru. Pada saat kita dipanggil menjadi orang Kristen, hari itu kita percaya dan mengambil tekad di hadapan Tuhan, itu bukan berarti pada saat itu juga kita menjadi sempurna. Ketika kita bertobat, di dalam diri kita masih terdapat manusia lama karena ternyata tidak mudah menanggalkannya sedemikian saja. Sehingga jika kita tidak mengerti konsep paradoks ini, maka kita akan terjebak di dalam kesenjangan yang sangat besar antara fenomena dengan ideal. Jikalau demikian, apa yang dimaksud dengan pergeseran iman? Dalam kekristenan kita menuntut satu kondisi paradoks yang sangat serius karena iman disini bukan sekedar mengubah gejala fenomena atau kuantitatif tetapi menuntut terjadinya pembedaan secara kualitatif. Karena ketika kita mau meninggalkan sesuatu yang lama dan memegang sesuatu yang baru maka disitu terdapat perbedaan nilai yang harus kita pegang, dimana yang baru harus lebih bernilai daripada yang lama. Tetapi bagaimana kita tahu dan yakin kalau yang kita kejar itu lebih baik? Disini perlu adanya ukuran untuk menilai yang lebih baik itu. Di dalam mengerti iman Kristen, saudara harus mendapatkan keunggulan kualitatif dan bukan keunggulan kuantitatif (Flp 3:4-11).

Sebagian besar manusia telah diracuni oleh iman humanis dan materialis dimana mereka hanya hidup mementingkan diri sendiri dan menjadi hamba uang (II Tim 3:1-2). Ini menjadi hal yang menyesatkan karena kita hanya mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya. Jikalau kita berada dalam iman yang seperti ini dan bereligiusitas maka bagi orang seperti ini Allah merupakan alat untuk mencapai imannya. Jadi ia bukan percaya Allah tetapi percaya humanis dan materialis yang direligiusitaskan sehingga Allah harus tunduk pada imannya dan Allah tersebut harus menguntungkannya. Semangat dan sifat agamawi manusia yang liar dan salah itu sebenarnya semua hanya jebakan daripada nafsu iman yang palsu yang menyesatkan. Itu bukanlah pergeseran iman yang kualitatif tetapi iman yang kuantitatif, sebab sekalipun ia pindah ke agama manapun, imannya tidak bergeser karena ketika ia berganti agama itu sekedar tampak luarnya saja. Yang lebih parah, orang Kristen juga banyak yang imannya humanis dan materialis, hanya kuantitasnya digeser dari yang sedikit menuju yang lebih besar. Kalau demikian, kita adalah pembagi destruksi dunia secara total. Alkitab mengatakan bahwa engkau harus bergeser dari iman yang palsu, yang mementingkan diri sendiri dan yang mengejar hal-hal duniawi untuk kembali menundukkan diri pada ketaatan kepada Tuhan yang sejati. Sudahkah itu menjadi bagian kita dan maukah kita mengeser bukan hanya gejala fenomena tetapi inti iman kita? Saya ingin setiap kita benar-benar menginterospeksi diri, seberapa jauh kalau kita boleh beranugerah mendengar Firman, itu sudah mengubah kita hingga ke akar permasalahan yang paling dasar yaitu inti iman kita yang sesungguhnya? Bukankah kalau kita mempermainkan Allah maka kita sedang merusak dan membuang diri di dalam dosa yang akhirnya menghancurkan diri kita.

Menerima Yesus sebagai Juru Selamat, bagi saya belum cukup jikalau kita tidak menguduskan Tuhan dalam hati. Karena jikalau hanya berhenti di "Juru Selamat" maka itu hanya memuaskan egoisme kita. Dalam I Petrus dikatakan, "Hendaknya engkau menguduskan Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhanmu." Inilah inti daripada kehidupan iman yang baru yaitu kembalinya saudara dan saya pada iman yang sesungguhnya, taat mutlak kepada Kristus, memikirkan kepentingan Tuhan dan sungguh-sungguh mau mengabdi pada Tuhan. Ketika kita bergeser dari manusia lama diperbaharui menjadi manusia baru maka itu melewati satu jalur dimana roh dan pikiran kita diubah. Itu terjadi karena kita mendengar pengajaran dan mendapatkan kebenaran yang nyata dalam Kristus.

Disini terbaliknya antara konsep dunia dengan iman Krsiten. Konsep dunia selalu melihat perubahan kuantitatif dan tidak melihat perubahan kualitatif sedangkan Kekristenan menuntut perubahan kualitatif meskipun perubahan kuantatif belum terjadi. Paulus mengatakan, jikalau saudara sudah menjadi manusia baru maka saudara harus meninggalkan manusia lama. Itu berarti Paulus tahu bahwa ketika bertobat, manusia lama kita seringkali masih ada. Secara ideal, kita sudah menjadi orang baru namun realitanya kita masih harus berproses hingga akhirnya boleh mencapai sama seperti yang dituntut oleh Tuhan di dalam kesempunaannya. Itu proses seumur hidup yang harus dikerjakan.

Sekarang yang perlu kita pertimbangkan adalah berkenaan dengan bagaimana proses itu dapat terjadi.

1). Perubahan yang bersifat esensial adalah dari dalam dan bukan dari luar. Tuhan menuntut perubahan pertobatan dari dalam motivasi hati kita. Bertobat adalah ketika hati kita mulai berbalik dari hidup yang untuk kepentingan diri, sekarang untuk kepentingan Tuhan. Hati yang dulunya beku, egois dan mati, kini disembuhkan, dihidupkan oleh Tuhan sehingga menjadi hati yang takut akan Tuhan. Kita tahu bahwa hidup ini bukanlah milik kita lagi melainkan milik Tuhan. Mari kita menilik hati kita, benarkah kalau disebut orang Kristen, Kristen yang artinya Kristen kecil (miniatur, mencerminkan Kristus dalam hidupnya) kita mau memuliakan Kristus dalam hidup kita? Apakah kita dimotivasi dengan semua keinginan diri dan egoisme yang luar biasa? Ketika kita hidup bagi Tuhan, seringkali masih berada di dalam dua kondisi, antara melayani Tuhan atau melayani diri kita sendiri. Kita perlu peka, siapa sebenarnya yang menjadi inti dalam kita melayani!

2). Bagaimana sikap kita terhadap dosa? Orang bukan Kristen berbuat dosa dan orang Kristenpun masih dapat berbuat dosa, lalu dimana letak perbedaannya? Bedanya adalah didalamnya. Orang yang bukan Kristen kalau berbuat dosa, ia tidak merasa perlu mengakui dan bertobat dari dosanya tetapi orang yang di dalam Tuhan, hatinya peka sekali akan dosa. Bagi saya merupakan tanda tanya besar kalau orang yang mengaku Kristen tetapi hidupnya sembarangan di dalam berbuat dosa karena bagi saya kalau seseorang sudah bertobat seharusnya ada satu kesadaran.

Menurut Yoh 16:8 dikatakan kalau Roh Kudus diam di dalam hati seseorang maka Ia akan menginsafkan orang tersebut akan dosanya. Orang yang sadar dosa adalah karena Roh Kudus sudah menyadarkannya, saat itu ia akan menyesal dan tidak berbuat dosa lagi. Itulah tanda bahwa ia telah diperbaharui. Saya harap keinsafan kita akan dosa diperkembangkan di dalam hati kita dan menguji bagaimana hidup kita masing-masing. Biarlah hal ini terjadi selangkah demi satu langkah, mungkin tidak dapat selesai segera tetapi pasti bertumbuh dengan pertolongan kuasa Tuhan. Yang dimaksud disini adalah kuasa menjadi anak-anak Allah yang hidupnya memperkenan Tuhan Allahnya, yang tidak mempermalukan Bapanya dan yang hidup sesuai dengan sifat Bapanya (Yoh 1:12). Jiwa yang di dalam kesucian, kebenaran dan keadilan merupakan jiwa yang berbeda dari natur hidup di dalam dosa. Maka untuk itu Allah memberikan kuasa untuk melawan. Kita masih ada manusia lama tetapi Tuhan sekarang memberi kuasa dimana dulu tidak dapat menanggalkan hal tersebut tetapi sekarang kita mampu menanggalkannya.

3). Waspada terhadap nafsu yang membinasakan kita. Orang yang sudah diperbaharui harus peka dan waspada terhadap semua gejala dan cobaan yang menerpanya. Saat saudara hidup santai dan tidak mau beriman, saudara akan aman tetapi ketika saudara mengambil tekad hidup setia pada Tuhan maka saat itu akan mulai muncul banyak masalah, cobaan, usaha untuk menjatuhkan dan banyak hal manis yang ditawarkan supaya saudara rusak imannya dan jatuh daripada kebenaran. Yesus mengajarkan supaya kita menjauhkan diri dari semuanya itu, seperti dalam doa Bapa Kami, "Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat." Itu merupakan prinsip iman Kristen. Namun waktu kita menjauhkan diri dari pencobaan, pencobaan bukannya akan tinggal diam tetapi akan terus mengejar. Satu prinsip yang harus dipegang keras oleh orang Kristen adalah bahwa barangsiapa ingin menanggalkan manusia lama, ia harus mempunyai tekad yang uncompremize (tidak ingin berkompromi sama sekali) di dalam sikap hidup kita. Kita jangan mudah menyerahkan diri untuk jatuh dalam hal-hal seperti itu. Seringkali banyak anak-anak remaja yang jatuh karena hal seperti itu. Mari kita mulai sadar, pada saat diubah oleh Tuhan, hal seperti itu harus dihentikan, manusia lama kita harus ditanggalkan dan kembali kepada Kristus. Ini semua demi supaya kita boleh melayani secara tepat seperti yang dikehendakiNya. Hanya dengan cara seperti itu Tuhan dapat memperbaharui keseluruhan hidup kita demi kemuliaan namaNya. Kiranya hari ini Tuhan boleh mengusik dan mengubah hati kita sehingga kita boleh mengambil komitmen dihadapan Tuhan untuk setia mengikut Tuhan, menanggalkan manusia lama dan berjuang berproses mulai hari ini, setiap hari diubah semakin hari semakin dekat pada Kristus dan boleh memuliakanNya.

Kelahiran Baru




Anda tahu hukum gravitasi bumi? Lemparkan apa saja ke udara, pasti
benda itu akan jatuh kembali. Hanya jika dalam suatu benda atau
makhluk hidup bekerja hukum lain, mereka akan dapat terbang
mengatasi gaya tarik bumi. Pesawat terbang, burung di udara
adalah contohnya. Sayap-sayap mereka menyebabkan mereka dapat
terbang dan gaya tarik bumi tidak dapat menarik mereka jatuh!

Mengapa semua kita cenderung proaktif berbuat dosa dan proaktif
menjauhi Allah serta kebenaran-Nya? Mengapa begitu gampang kita
menyerah kepada godaan untuk berkompromi dengan dosa? Misalnya,
tidak jujur, benci, pikiran cemar, sombong, serakah, tidak
hormat kepada Allah. Mengapa? Karena sifat manusia kita sudah
dicemari oleh dosa. Kita, anak-anak Adam dan Hawa, telah
mewarisi kecenderungan berbuat salah. Kita tidak berdaya untuk
terbang dalam kesucian Allah. Kita tunduk di bawah hukum
gravitasi dosa!

Yohanes Pembaptis berkhotbah dengan tegas dan tajam. Banyak orang
diinsyafkan atas dosa-dosa mereka. Sebagai tanda keinsyafan dan
pertobatan, mereka memberi diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.
Itu ungkapan tekad mereka meninggalkan dosa dan harapan bahwa
seterusnya mereka akan hidup dalam kesucian. Namun Yohanes
Pembaptis mengingatkan bahwa baptisan yang ia berikan tidak
dapat mengubah mereka menjadi suci. Pertobatan tidak sama dengan
pembaruan hati. Manusia perlu dilahirkan kembali sebab dosa
telah membuat kita mati. Kita butuh diciptakan ulang, dilahirkan
kembali, diberi hati baru!

Syukur bahwa Yesus Kristus berkuasa melakukan yang Yohanes Pembaptis
tidak sanggup. Ia datang untuk menggenapi rencana penyelamatan
dari Allah untuk manusia. Ia sudah memberikan hidup-Nya untuk
menghidupkan kita yang mati rohani. Ia berkuasa membaptiskan
kita dalam Roh Allah, yaitu baptisan pembaruan hati. Dengan
dibaptiskan Roh kita dilahirkan baru. Sifat Kristus terbit dalam
hati kita. Bahwa kita beriman kepada-Nya, mengasihi Dia,
memiliki dorongan hati untuk menaati firman-Nya, adalah akibat
dari Roh-Nya melahirkan kita kembali. Adakah tanda-tanda hidup
dari Roh itu dalam Anda?