Minggu, 15 Maret 2009

Cara Menjadi Orang Besar (Mar 9:30-37)


Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah yang terjadi pada murid-murid
Yesus. Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian
dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya (ayat 32). Akibatnya
mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian,
yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ironis
bukan? Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar. Dan
orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi
jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru.
Maka Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya
tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain.
Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak (ayat 36).
Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting.

Pandangan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa
kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani
kita. Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa,
popularitas, dan kekayaan. Ambisi dunia adalah menerima
perhatian dan penghargaan. Lalu salahkah berambisi menjadi orang
besar? Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa
kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain
menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Kebesaran sejati bukan
menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan.
Kebesaran adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan
menjadi berkat bagi sesama. Misalnya seorang dokter. Ia dianggap
besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah
sakit mahal. Atau karena ia sering menjadi pembicara di
seminar-seminar kesehatan. Ia dianggap besar bila ia juga
menyediakan waktunya untuk menangani orang miskin.

Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita
sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak
dimiliki seorang pengikut Yesus. Apa solusinya? Milikilah hati
seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan
merendahkan diri sendiri. Ingatlah bahwa Yesus rela dianggap tak
berarti dan memikul salib bagi kita.

The True Chistianity


Sampai hari ini banyak orang Kristen berpikir dan berpendirian bahwa Kekristenan yang benar adalah sekumpulan hukum-hukum atau perintah yang dijalani. Itulah sebabnya ada kelompok orang Kristen yang berusaha menemukan perintah-perintah atau hukum-hukum yang ditulis Alkitab kemudian berusaha merumuskannya dengan teliti guna dilakukan. Ini adalah kelompok militan yang sejajar dengan orang-orang parisi dan ahli torat pada jaman Yesus. Biasanya kelompok ini ditandai dengan sikapnya yang sombong karena kesucian hidup yang mereka miliki dan penghakiman bahkan penghukuman yang mereka lakukan terhadap saudara yang bersalah. Biasanya mereka seperti memiliki rasa bangga atas prestasi kesucian hidup yang mereka miliki dan kecaman yang tajam terhadap saudara yang jatuh dalam dosa. Orang-orang seperti ini mengira bahwa ia berkenan kepada Tuhan lebih dari orang lain, pada hal sikap seperti ini makin menjadikan ia jauh dari hati dan pikiran Allah. Sementara ada kelompok lain yang tidak militan mematuhi hukum, mereka berpendirian sama sama seperti diatas tetapi tidak militan untuk mematuhi hukum. Mereka dengan diam-diam memiliki sikap pesimistis menjadi orang “saleh Tuhan” karena kegagalan melakukan perintah-perintah Tuhan. Menurut kelompok ini menjadi orang Kristen yang benar adalah hal yang mendekati kemustahilan. Tidak jarang orang-orang seperti ini menjauhi kasih karunia Tuhan. Akhirnya mereka bisa terhilang dan tidak mengenal kebenaran sama sekali. Membicarakan hal ini bukan berarti bahwa hukum Tuhan boleh dibuang atau bisa direndahkan. Tetapi kita harus memiliki pemahaman yang benar bagaimana memandang hukum. Kekristenan yang benar harus dimengerti dengan benar. Hal ini sangat penting. Kekristenan yang benar bukan sekedar memahami sekumpulan hukum-hukum dan berusaha melakukannya.

Hal pertama yang harus diingat bahwa keselamatan yang kita peroleh adalah anugerah, karunia semata-mata. Kita peroleh bukan karena kita berbuat baik. Tetapi karena iman (Ef 2:8-9). Hal ini merupakan landasan pertam ayang membuat seseorang tidak bias sombong atau tinggi hati karena kebenaran hidup yang dimiliki. Kalau orang Kristen bias sombong dengan kebenaran hidupnyanya , maka jalurnya pasti salah. Ketika seseorang percaya kepada Tuhan yesus sebagai Juru Selamat kemudian Tuhan menjadikannya anakNya, maka Tuhan memberikan kepadanya hak sebagai anaka Allah (Yoh 1:12-13). Hak inilah yang didalamnya terdapat kuasa pembaharuan seperti yang dinubuatkan dalam perjanjian lama (Yehez 36:25-27). Landasan atau dasar untuk menjadi berkenan kepada Allah itu pada hakekatnya adalah pertama “percaya kepada Tuhan Yesus Kristus”, selanjutnya mengenal kebenaran. Iblis tidak terlalu berputus asa ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, sebab ia masih memiliki jalan yaitu menutup kebenaran agar tidak dikenali orang percaya tersebut. Kuasa pembaharuan atau kuasa yang memerdekakan terdapat pada ketika seseorang “mengenal kebenaran” (Yoh 8:31-32). Sebab bila tidak demikian niscaya Tuhan Yesus tidak perlu mengajar dari kota ke kota, dari desa ke desa. Pengajaran cukup diserahkan kepada ahli-ahli torat dan guru-guru agama pada waktu itu. Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran Allah yang memerdekakan atau menjadikan orang percaya berkenan kepada Bapa. Hal ini merupakan hal yang utama, sebagai buktinya ketika Tuhan Yesus naik ke sorga maka ia perlu mengutus penolong. Fungsi dari penolong tersebut adalah membawa orang percaya kepada segala kebenaran Tuhan (Yoh 14:16-17,26; 16:12-13).

Dengan demikian jelas bahwa yang utama dalah pembaharuan pikiran oleh Firman Tuhan setiap hari, ini adalah landasan untuk menjadi berkenan kepada Tuhan (Roma 12:2). Jadi melakukan Firman Tuhan atau melakukan segala sesuatu yang yang diperintahkan Tuhan (Mat 28:18-20), bukan semata-mata membuat memperhatikan hukum yang tertulis guna dilakukan tetapi mengerti “kebenaran Tuhan” dan menerapkannya dalam hidup. Ini bukan hanya berbicara mengenai sikap tubuh atau apa yang kelihatan tetapi juga sikap hati. Karenanya dalam matius 5 Tuhan Yesus mencoba memberi contoh hukum kesempurnaan yang harus dilakukan anak-anak Tuhan. Tuhan menunjukkan bahwa konsep berjinah, membunuh, mengasihi dll menurut Tuhan dengan menurut ahli torat itu berbeda. Dengan demikian jelaslah bahwa kebenaran Firman Tuhan itulah yang menguduskan (Yoh 17:17).

Minggu, 01 Maret 2009

Cara Menjadi Bahagia

Cara Menjadi Bahagia

Setiap orang ingin memiliki kebahagiaan. Siapakah dia, kebahagiaan merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam hidup manusia. Namun banyak sekali orang yang gagal dalam perjuangan untuk menemukan kebahagiaan tersebut karena mereka mencari pada tempat yang salah.
Amsal 16:20 berkata kepada kita, “Berbahagialah orang yang percaya kepada Tuhan.: Maz 146:5 mengindikasikan bahwa kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mencari pertolongan dan pengharapan mereka di dalam Allah.

Dasar kebahagiaan adalah suatu hubungan yang baik dengan Tuhan, namun untuk mengalami penuh kebahagiaan tersebut, kita harus membangun cara-cara yang praktis di atas dasar tersebut. Saya membuat daftar 10 aturan untuk hidup lebih bahagia:
1. Memberikan sesuatu
2. Melakukan suatu kebaikan
3. Selalu mengucap syukur
4. Bekerja dengan giat dan bersemangat
5. Mengunjungi orang yang lebih tua dan belajar dari pengalaman mereka yang baik
6. Lihat dan kagumi wajah seorang bayi dengan sungguh-sungguh
7. Sering tertawa - itu adalah pelumas bagi hidup
8. Berdoalah untuk mengetahui jalan Allah
9. Rencanakan seolah-olah anda akan hidup selamanya – anda memang akan hidup selamanya
10. Hiduplah seolah-olah hari ini hari terakhir anda di bumi

Hal ini adalah ide cemerlang untuk memiliki kehidupan yang bahahia. Dasari setiap aturan ini dengan pujian, maka kehidupan anada akan menjadi sempurna. “Puji Tuhan, hai jiwaku! Aku hendak memuliakan Tuhan selama aku hidup” (Maz 146:1-2).

Pandangan Kekekalan

Di dalam film Gladiator, Jendral Maximus Disimus Meridius berusaha menggerakan pasukan berkudanya un tuk bertempur dengan baik menjelang peperangan melawan orang Jerman. Dalam pesan kepada pasukannya ia menantang mereka untuk memberikan yang gterbaik. Dia membuat pernyataan yang mendalam: “apa yang kita lakukan selama hidup bergema di dalam kekekalan”. Kata-kata yang berasal dari pemimpin militer khayalan ini menyampaikan sebuah konsep yang kuat, yang merupakan hal penting bagi setiap orang percaya di dalam Kristus. Kita tidak hanya membuang-buang waktu dan tempat di atas sebongkoh planet yang terapung-apung di alam semesta. Kita ada disini dengan kesempatan untuk suatu perbedaan yang kekal melalui hidup kita.

Yesus sendiri berkata, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya (Mat 6:20)”. Memiliki cara pandang hidup untuk kekekalan bisa memberi pengaruh yang besar di dalam dunia ini.
Bagaimana kita bisa belajar untuk memikirkan perkara-perkara di atas? (Kol 3:2). Suau cara yang baik untuk memulainya adalah dengan mengetahui hal-hal yang dihargai oleh Allah kita yang kekal. Melalui halaman demi halaman dalam alkitab, Dia mengingatkan kita bahwa Dia sangat menghargai pribadi kita melampaui harta benda bahkan penampilan kita. Itu adalah kebenaran kekal selama-lamanya. Mengerti hal tersebut bisa menolong kita memiliki pandangan kekalan dalam hidup keseharian kita.

Setiap pilihan yang kita ambil setiap hari akan mempengaruhi kita terhadap kekekalan.

Kedewasaan Hidup

Kedewasaan Hidup

Saling mengasihi (Yoh 13:34)

Saling mengampuni (Ef 4:32)

Terimalah satu akan yang lain (Rom 15:7)

Saling membantu (Ef 4:2)

Saling mendahului dan memberi hormat (Rom 12:10)

Berilah salam seorang kepada yang lain (2 Kor 13:12)

Berilah tumpangan seorang kepada yang lain (I Pet 4:9)

Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling
mengampuni (Ef 4:32)

Janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan (Ibr 13:16)

Layanilah seorang akan yang lain (Gal 5:13)

Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! (Gal 6:2)

Saling membangunlah (I Tes 5:11)

Nasehatilah seorang akan yang lain setiap hari (Ibr 3:13)

Hiburkanlah serang akan yang lain ( I Tes 4:18)

Saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik (Ibr 10:24)

Saling menasehati (Rom 15:14)

Menegor seorang akan yang lain (Kol 3:16)

Saling mendoakan (Yak 5:16)

Saling mengaku dosamu (Yak 5:16)

Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama (Rom 12:16)

Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain (Ef 5:21)

Life Everyday

Life Everyday
Dalam beberapa minggu terakhir sebelum saya menulis tulisan ini, saya membaca di beberapa media cetak tentang kehidupan beberapa orang yang umurnya mencapai antara 110 dan 115. Bahkan tetangga dari sayapun meninggal dengan umur 114 tahun. Betapa bangganya keluarga dari almarhum dan tidak ada kelihatan dukacita, mereka bersukacita karena bahwasanya tidak semua orang yang diberikan kesempatan oleh Tuhan seperti orang tersebut.

Namun ada seorang yang bernama Tamer Lee Owens. Merayakan ulang tahunnya yang ke 104, ia percaya bahwa “tertawa, Tuhan, dan hal-hal kecil-lah yang membuatnya berumur panjang. Ia masih menemukan kebahagiaan setiaap hari saat bercakap-cakap dengan orang-orang, berjalan kaki dan membaca alkitab seperti yang biasa ia lakukan semenjak masih kanak-kanak. “Saya tidak tahu sampai berapa lama lagi Tuhan mengizinkan saya hidup, ujarnya. “Saya haya beryukur kepada Tuhan atas apa yang ia berikan kepada saya.”

Banyak dari antara kita yang tidak akan hidup sampai usia 104 tahun, tetapi kita dapat belajar dari Tamer Lee Owens bagaimana caranya menikmati setiap hari yang diberikan kepada kita.
1. Tertawa. “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kekedihan hati mematahkan semangat” (Ams 15:13). Kebahagiaan sejati berawal dari hati kita yang terdalam dan terpancar di wajah kita.
2. Tuhan. ”Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan” (33). Ketika Allah menjadi pusat di dalam hati kita, Ia dapat mengajarkan jalan-jalanNYA kepada kita melalui setiap pengalaman hidup kita.
3. Hal-hal kecil. ”Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian” (17). Memelihara hubungan kasih dan menikmati hal-hal yang mendasar di dalam hidup kita jauh lebih penting daripada kekayaan dan kesuksesan.

Tidak semua diantara kita yang akan berumur panjang, namun kita semua dapat hidup dengan baik setiap hari dengan tertawa, Tuhan, dan menikmati hal-hal kecil dan hidup.

Dunia ini dipenuhi dengan banyak hal yang baik. Hal-hal kecil yang dapat memberikan kebahagiaan, tetapi Kristus dapat mengisi hidup kita dengan sukacita melebihi semua kekayaan dunia
Kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan, tapi perjalanan dari hari ke hari (ChaPunK)

Sindrom Manisan Turki

Sindrom Manisan Turki

Dalam buku The Lion, the Witch, and the Wardrobe, dengan mudahnya Edmund ditarik dalam kegelapan oleh si penyihir rambut putih yang jahat. Metodenya sangat gampang, dia memenuhi hasratnya akan kekayaan, makanan lezat, sekalugus juga status dan balas dendam. Manisan Turki ditawarkan kepadanya sangat lezat dan membuatnya terus meminta lebih. Begitu kuat pengarungnya sampai-sampai membuat dia mengkhianati saudara-saudaranya.

Keinginginan dari dunia dan kedagingan adalah perangkap iblis yang kuat dan bisa membuat manusia kecanduan. Hari-hari ini dia bekerja lembur menawarkan berbagai macam pilihan yang kelihatannya enak, lezat,ban bagus. Dia mempengaruhi kecintaan kita akan hal-hal yang memuaskan hawa nafsu egois dan dosa kita yang mempergunakannya untuk menggoda, mengontrol, melemahkan dan mennghancurkan kita. Kita kecanduan kekuasaan atau uang, makanan, seks, alcohol, atau pakaian, meskipun dengan resikonya harus mengorbankan teman-teman kita atau orang-orang yang kita cintai, dan bahkan hubungan kita dengan Juruselamat, untuk memuaskan nafsu kita.

Bagaimana kita bisa melawan godaan iblis? Paulus berkata, “ Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” (Gal 5:16). Dia juga menulis, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Rom 13:14). Dan Yohanis berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada dalamnya” (I Yoh 2:15)